Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

7/01/2012

Cerita dari Kantor Mungil yang Punya Segudang Kerja


Bekerja di kantor buat sebagian orang adalah sebuah prestise. Lulus dari perguruan tinggi harapannya tentu bekerja, entah bekerja di perusahaan swasta atau di kantor pemerintahan. Lowongan kerja rasanya nggak sebanding dengan pencari kerja sehingga angka pengangguran di Indonesia cukup tinggi. Persaingan dalam pencarian kerja juga nggak mengenal gender. Pria dan wanita bersaing untuk menduduki posisi yang diimpikan dalam sebuah perusahaan. Ada juga sebagian orang yang memilih untuk berwirausaha. Tujuannya sih tetap saja bekerja untuk mendapat penghasilan.

Dan saya.... sejak lulus dari perguruan tinggi tahun 2000 lalu, saya bekerja menjadi manager keuangan untuk sebuah perusahaan kecil. Bahkan sebelum lulus kuliah saya sudah bekerja di perusahaan ini. Tugas utama sih mengatur keuangan perusahaan tapi merangkap beberapa tugas lain. Karyawan di perusahaan saya ini bisa dikatakan hanya saya dan atasan saya, makanya disebut perusahaan kecil. 

Ada 3 klien yang kami layani, dan itu juga klien tetap perusahaan kami.   Soal gaji, saya cukup fleksibel untuk hal ini, nggak pernah nuntut macem-macem, minta kenaikan gaji misalnya. Karena fasilitas untuk karyawan seperti saya bisa dibilang cukup memuaskan. Jadi nggak ada alasan untuk nggak loyal pada perusahaan kecil ini.

Tugas menyiapkan kebutuhan klien adalah tugas lain yang jadi tugas rutin saya. Jadi saya nggak bekerja di belakang meja, pekerjaan saya menuntut harus mobile dan dinamis. Kadang urusan mendisain ruangan kantor agar suasananya berubah dan tidak membosankan juga jadi pekerjaan di luar tugas utama. Tidak ada asisten yang membatu pekerjaan saya karena saya cukup mampu menjalankan tugas-tugas saya. Walaupun kadang keteteran, tapi saya merasa enjoy dengan pekerjaan saya ini.

Ini kantor mungil saya di Pekanbaru


Soal jam kerja, saya juga cukup fleksibel. Tidak ada batasan waktu untuk bekerja. Kalau dibutuhkan saat malam hari, saya siap melaksanan tugas. Yaaa... demi profesionalisme dalam bekerja saya nggak membatasi tugas juga jam kerja saya. Dan saya menikmatinya.

Hhhmmm.... sebenarnya apa sih pekerjaan saya ini ya?  Kantor mungil tapi segudang pekerjaan.  Saya adalah profesional housewife alias Ibu Rumah Tangga profesional hehehe... Menempatkan diri sebagai manager keuangan membuat saya dituntut untuk profesional jika nggak pengen 'perusahaan' bangkrut. Juga tugas lain yang nggak kalah pentingnya yaitu menyiapkan segala kebutuhan "klien" dari soal finansial, sampai masalah menyiapkan pemenuhan gizi mereka. Pekerjaan yang nggak bisa dibilang sembarangan, memiliki tanggung jawab yang besar dunia akhirat makanya menjadi ibu rumah tangga juga harus profesional kan? Dan saya bangga dengan tugas ini....  (EL)


Berdamai Dengan Ibu Mertua


ayushveda.com



Membangun hubungan dengan Ibu mertua mungkin tak sebaik dengan ibu sendiri.  Perbedaan sering membuat ibu mertua menjadi berseberangan. Bagaimana mengatasinya?

1.   Lepaskan diri secara emosional
Jangan terlalu berpikir ibu mertua adalah ibu yang lain. Sementara waktu anggaplah sebagai kenalan biasa. Panggillah ibu mertua Anda dengan namanya secara sopan, lihat bagaimana reaksinya.

2.   Pahami masalah utama
Banyak alasan mengapa ibu mertua sulit menerima Anda sebagai menantu. Bisa jadi karena beliau merasa jadi kurang penting di mata anaknya. Pahamilah alasan-alasan dibalik perilaku yang ditunjukkan ibu mertua, dibanding menganggapnya secara personal.

3.   Beri jarak secara fisik
Anda mungkin perlu membatasi partisipasi dalam setiap acara keluarga pasangan, sementara waktu. Kendati demikian, Anda juga tak harus menjauhkan pasangan dari keluarganya. Anda bisa membatasi kehadiran bersama,selama masih bisa dipahami pasangan.

4.   Jangan terlalu berharap dia akan berubah
Jika Ibu mertua mengkritik, meremehkan hal-hal yang Anda katakan, dan membicarakan keburukan Anda kepada saudara-saudara pasangan, jangan bertindak gegabah. Ingatlah agar tetap menjaga jarak, bahkan ketika beliau sedang bersikap baik. Coba melihat pada perempuan lain yang dapat menjadi teladan, mentor, role model, dan sumber kebaikan. Anda mungkin perlu mencatatnya sebagai factor positif dalam hidup.

5.   Kenali beberapa penyebab ketidak harmonisan
Setelah cukup memberi jarak, coba visualisasikan apa yang telah terjadi. Apa yang dilakukan dan dikatakan ibu mertua, yang membuat Anda emosi. Setelah pemicu dikenali, Anda harus dapat mengendalikan diri  saat hal tersebut terulang.

6.   Jangan memancing emosi
Jika konflik sulit dihindari, cobalah merespon dengan jujur. Jujur bukan berarti kasar. Namun tetaplah tanamkan, jika Anda berhak mengungkapkan apa yang ada dalam benak. Tak perlu takut, jujur saja!

7.   Lucuti rasa bersalah yang kerap dijadikan senjata
Bisa jadi ibu mertua menjadikan rasa bersalah Anda sebagai senjata memenangkan peperangan. Cobalah balik kesadaran dengan menanyakan “Ibu tidak berusaha membuat saya merasa bersalah kan?”. Coba untuk tidak terjerumus dalam taktik manipulatifnya. Jika Anda telah dapat mengatasi ketidakberdayaan, cobalah menyanjung ibu mertua di hadapan orang lain. Atau, tunjukkan bagaimana penting nilai sang Ibu mertua di mata keluarga kecil Anda.

8.   Pikirkan pasangan dan anak-anak
Saat hubungan dengan Ibu mertua  keruh, pikirkan hubungan anak-anak dengan Ibu mertua di masa depan. Anda tak ingin merusak hubungan sang Ibu mertua dengan mereka, bukan? Kadang kala, Anda harus pandai memadamkan emosi demi orang-orang yang dicintai. Tak ada salahnya, Anda mencoba melupakan dan berlaku baik demi mereka.

*sumber : tabloidNova
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India