Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

7/16/2012

3 Gaya Belajar Anak

thecloroxlounge.com


Masing-masing anak memiliki gaya belajar yang berbeda satu sama lain, hal ini kadang kita orang tua tak menyadarinya. Oleh karena itu, jangan buru-buru menudingnya malas belajar bila nilainya di sekolah menurun. Mungkin penyebabnya karena dia "dipaksa" belajar dengan cara yang bukan gayanya. Coba simak gaya belajar mereka di bawah ini, dan lihat bagaimana hasil belajar mereka dengan gaya tersebut.

1. GAYA BELAJAR AUDITORI (pendengaran)

Kaitannya dengan proses belajar menghafal, matematika dalam hal mengerjakan soal cerita, membaca, dan mengerti isi bacaan.

Ciri pada anak:
- Mudah ingat dari apa yang didengarnya, mudah mengingat apa yang didiskusikan.
- Tak bisa belajar dalam suasana berisik atau ribut.
- Senang dibacakan atau mendengarkan.
- Lebih suka menuliskan kembali sesuatu, senang membaca dengan suara keras, dan pandai bercerita.
- Bisa mengulangi apa yang didengarnya, baik nada, irama, dan lainnya.
- Lebih suka humor lisan ketimbang baca buku.
- Senang diskusi, bicara atau menjelaskan panjang lebar.
- Menyenangi seni musik.

Kendala pada anak:
Sering lupa apa yang dijelaskan guru, sering lupa membuat tugas yang diinstruksikan guru secara lisan, kerap keliru mengerjakan seperti yang diperintahkan guru, dan kesulitan mengekspresikan apa yang dipikirkan.

2. GAYA BELAJAR VISUAL (penglihatan)

Berkaitan dengan proses belajar, seperti matematika (geometri), serta bahasa Mandarin dan Arab atau yang berkaitan erat dengan simbol dan letak-letak simbol. Perbedaan letak simbol bisa berpengaruh karena terjadi perbedaan bunyi.

Ciri pada anak:
      - Lebih mudah ingat dengan cara melihat.
- Tidak terganggu oleh suara ribut saat belajar.
- Lebih suka membaca.
- Lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada menjelaskan.
- Tahu apa yang harus dikatakan tapi tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
- Tertarik pada seni seperti lukis, pahat, gambar daripada seni musik.
- Sering lupa jika harus menyampaikan pesan secara verbal kepada orang lain.

Kendala pada anak:
Utamanya dalam visual motor, seperti terlambat menyalin pelajaran di papan tulis, dan tulisan tangannya berantakan sehingga tak terbaca.


3. GAYA BELAJAR KINESTETIK (gerak)

Kaitannya dengan proses belajar yang membutuhkan banyak gerak, semisal pelajaran olahraga dan percobaan-percobaan sains.

Ciri pada anak:
- Lebih banyak menggunakan bahasa tubuh.
- Menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan secara fisik.
- Ketika membaca, menunjuk kata-katanya dengan jari tangan.
- Kalau menghafal sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung.
- Belajar melalui praktik langsung atau dengan manipulasi (trik, peraga).
- Banyak gerak fisik dan punya perkembangan otot yang baik.
- Menanggapi perhatian fisik.

Kendala pada anak:
Anak cenderung tidak bisa diam. Anak dengan gaya belajar seperti ini tidak bsia belajar di sekolah-sekolah yang bergaya konvensional di mana guru menjelaskan dan anak duduk diam. Anak akan lebih cocok dan berkembang bila di sekolah dengan sistem active learning, di mana anak banyak terlibat dalam proses belajar.

Nah, yang mana gaya belajar anak Anda?

*Sumber : Kompas Female


7/14/2012

Sekolah Indonesia (Masih) Primitif..?


Berita tentang hilangnya rapor seorang siswa kelas 4 saat akan naik ke kelas 5 di sebuah sekolah dasar di Gowa, Sulawesi Selatan mengingatkan saya pada peristiwa yang sama beberapa tahun yang lalu.  Walaupun peristiwa yang menimpa anak saya itu tidak sampai menyebabkan dia harus mengulang kelas seperti halnya Aldy namun cukup membuat tekanan psikologis pada anak saya lantaran takut jika bertemu gurunya itu.

Peristiwa hilangnya rapor terjadi pada semester genap kelas 3 sekolah dasar di sebuah sekolah negeri di Pekanbaru, Riau. Waktu itu sepulang sekolah, anak saya menyampaikan pesan dari gurunya bahwa rapor harus segera dikumpulkan karena satu bulan lagi ujian akhir semester sudah dimulai. Lalu saya bilang padanya, bukannya rapor sudah dikumpulkan waktu masuk semester genap yang lalu. Karena memang sudah menjadi kebiasaan saya menyuruh anak saya mengumpulkan rapor di awal semester.

Hari berikutnya dia menyampaikan hal yang sama, bahwasanya rapor harus segera dikumpulkan. Saya lalu berpikir apa mungkin saya yang lupa, jangan-jangan memang rapor belum dikumpulkan dan masih ada di rumah. Segera saya cari rapor anak saya itu, dan saya tak menemukannya. Baru saya yakin kalau memang rapor itu memang sudah dikumpulkan setelah libur semester ganjil. Berikutnya, lagi-lagi si anak menyampaikan pesan dari sang guru kelas bahwa rapor tidak ada di sekolah.

Segera saya menuju sekolah untuk menanyakannya pada ibu guru kelas anak saya. Tahukah apa jawaban dan ekspresi wajahnya???? "Mana saya tahu??!  Dengan ekpresi wajah cuek seakan tak ikut bertanggung  jawab. Waktu itu anak saya juga berada dalam kelas bersama saya. Sang guru bilang bahwa rapor pernah dipinjam anak saya untuk keperluan MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) karena anak saya juga sekolah di sebuah madrasah saat sore hari. Saya pun heran dengan keterangan ibu guru itu, karena untuk apa MDA meminta rapor sekolah umum karena memang tidak ada hubungannya. Saya tanyakan juga pada anak saya waktu itu apakah benar dia pernah meminjam rapor untuk keperluan MDA, dengan terisak-isak dia mengatakan bahwa tidak pernah meminjam rapor untuk keperluan itu.

Raut muka ibu guru itu semakin terlihat  tidak ramah mendengar keterangan muridnya itu. Lalu dengan nada tinggi beliau berkata,"Ibu ingat kamu meminjamnya..!" Mendengar itu, anak saya semakin terlihat takut dan tertekan. Lalu saya bilang pada beliau, jika rapor diperlukan untuk MDA tidak mungkin saya tidak mengetahuinya. Dalam hati saya yakin rapor itu hilang atau terselip di sekolah. Karena menurut ibu guru itu rapor yang sudah dikumpulkan diletakkan di laci meja guru di kelas (bukan di dalam sebuah lemari di kantor guru). Sedangkan kelas juga dipakai oleh 2 kelas berbeda, kelas pagi dan kelas siang.

Penyelesaian tidak kunjung diberikan oleh sang guru saat itu. Yang ada berulang kali dia menyalahkan anak saya yang waktu itu umurnya baru 8 tahun. Saya juga agak naik darah dibuatnya, bukannya berusaha menyelesaikan masalah malah membuat tekanan mental pada anak-anak. Hingga akhirnya seorang guru lain mendengar debat kusir dalam ruangan kelas itu, dengan nada yang cukup bijak bapak guru itu bilang kepada saya bahwa rapor hilang bisa diganti dengan membayar Rp. 10.000,- sebagai pengganti buku rapor. Saya jadi berpikir, kenapa ibu guru kelas itu tidak memberikan solusi itu sejak awal??? Kenapa harus menekan mental anak-anak dulu??

Sejak peristiwa itu, anak saya seperti tertekan jika akan berangkat ke sekolah. Dia seperti mendapatkan intimidasi dari guru kelasnya, tapi untungnya hal itu tidak berlangsung lama karena beberapa bulan kemudian dia sudah naik ke kelas yang lebih tinggi dan berganti guru kelas.

Rapor SD tahun 1988
Rapor SMP th 2010


Yang saya pikirkan setelah kejadian itu, bagaimana mungkin di era teknologi informasi seperti saat ini, penulisan rapor dan penyimpanan arsipnya masih dilakukan secara manual?? Rapor masih ditulis dengan tangan sedangkan penghitungannya masih menggunakan kalkulator. Ini sistem yang sudah out of date kan? Bayangkan saja jika dalam satu kelas terdiri dari 30 - 40 siswa? Saya rasa cukup merepotkan. Bukannya sudah ada perangkat lunak yang memudahkan kita memasukkan data lalu menghitungnya secara otomatis, misalnya dengan Microsoft Excel?

Bagaimana jadinya jika seluruh rapor siswa hilang atau rusak karena terbakar? Atau sekolah tiba-tiba dilanda banjir namun belum sempat menyelamatkan rapor siswanya? Apakah seluruh siswa harus mengulang seperti yang terjadi pada Aldy?

***
Kondisi berbeda saya temukan di sekolah sang adik. Anak kedua memang saya sekolahkan di sebuah sekolah Islam swasta yang lokasinya tak jauh dari sekolah negeri kakaknya. Rapor tidak lagi berupa buku yang ditulis tangan namun sudah berupa tulisan komputer dan diprint. Lembaran-lembaran rapor tiap semesternya dimasukkan dalam sebuah file keeper. Jika hard copy itu hilang, maka tak perlu lagi guru menulisnya namun tinggal ngeprint dari soft copy yang disimpan di sekolah.

Rapor SD swasta th. 2009 (diketik komputer)


Coba bandingkan, mana yang lebih praktis dan efisien? Mungkin sebagian orang berpikir, bagaimana administrasi penulisan rapor ini diterapkan di sekolah-sekolah terpencil?? Apakah SDM atau guru-gurunya sudah menguasai teknologi dan memiliki perangkat yang canggih itu sedangkan bangunan sekolah saja tak terurus. Apakah sekolah-sekolah negeri di Indonesia masih primitif ya?

Itu adalah TUGAS PEMERINTAH, dan pemerintah TAK BOLEH LEPAS TANGAN pada masalah pendidikan anak-anak penerus bangsa ini. Kemajuan bangsa berawal dari kemajuan pendidikan, jadi kapan dong pendidikan anak-anak Indonesia bisa maju. Memiliki bangunan sekolah yang memadai dan sistem administrasi yang tak lagi manual...

Saya pun hanya berharap anak-anak Indonesia bisa menikmati pendidikan yang maju..... semoga...

* Sumber : Tulisan saya di Kompasiana

7/11/2012

"Bagaimana Sperma Bisa Bertemu Sel Telur, Bu..??"


Image by google


Dulu waktu saya berusia sekitar 12 tahun, bertanya tentang bagaimana proses lahirnya bayi dari rahim seorang wanita, atau bagaimana caranya koq bisa jadi bayi, bagaimana caranya sperma seorang pria bertemu sel telur wanita.. pada ibu atau bapak saya rasanya koq tabu ya?? Dan saya teramat yakin kalau jawaban mereka pasti "kamu akan mengetahuinya nanti setelah dewasa". Itu jawaban yang praktis... hehe

Tapi seiring perkembangan informasi saat ini sepertinya anak-anak semakin terbuka. Pertanyaan-pertanyaan diluar dugaan saya membuat saya terkejut dan tersenyum. Rasa ingin tahu mereka yang besar karena pengaruh tayangan TV, internet dan media yang semakin variatif semakin membuat orang tua sekarang harus semakin kreatif dan rajin membaca untuk menjawab keingintahuan anak-anak. Sebenarnya memberikan sex edukasi pada anak-anak tidak susah tapi juga sangat tidak mudah.

Ini pengalaman saya...

Jauh sebelum mereka bertanya tentang proses terbentuknya seorang manusia dalam rahim seorang wanita, saya sudah membelikan mereka buku tentang PUBER PADA REMAJA Cewek dan Cowok (terbitan Erlangga). Karena anak-anak saya waktu itu sudah berusia 8 dan 11 tahun. Yaa... paling tidak mereka tahu bagaimana bentuk alat kelaminnya jika sudah beranjak dewasa, apa tanda-tanda kalau dia puber dll. Dari buku itu dia juga tahu bahwa janin terbentuk dari bertemunya sperma laki-laki dengan sel telur perempuan yang ada dalam rahim. Tapi bagaimana caranya, tidak ada penjelasan.

Maka, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang muncul dan mempertanyakannya pada saya ibunya.. Kebetulan yang  bertanya anak yang berusia 10 tahun kelas 5 SD.
Anak   : Bu, adek bayi itu asalnya dari bertemunya sperma laki-laki dan sel telur perempuan kan??
Ibu      : Iya..
Anak   : Gimana ketemunya ya bu..? Apa seperti bunga? Terbang-terbang di udara?
Ibu      : Hmmm... (mulai bingung memilih kata-kata). Kamu kan tahu bagaimana bentuk alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan?
Anak   : (Dia mulai manganalisa sendiri..) Jadi ketemunya...??? mmmm... dimasukkan???
Ibu      : Ya, kamu sudah punya jawabannya kan?
Anak  : Hiiiii......... koq gitu ya?? Jadi aku hasil dari....???
(Sebenarnya saya ingin tertawa melihat reaksinya itu, tapi saya berusaha menahannya)
Ibu     : Iya..  itulah tujuan dari pernikahan. Menikah dulu baru bisa punya anak. Dan kamu lahir itu karena kasih sayang Bapak dan Ibu, nak.

Itu sebagian percakapan saya dengan anak perempuan saya. Mungkin antara anak yang satu dengan yang lain berbeda cara mengungkapkan pertanyaan tentang sex pada orang tuanya. Ada yang malu-malu ada juga yang to the point. Intinya bagaimana kita menjelaskannya dengan bahasa yang dimengerti anak-anak sesuai usianya.

Dan bersiap-siaplah anda sebagai orang tua menerima pertanyaan-pertanyaan tak terduga dari anak-anak anda..

7/03/2012

Sekolah : Membangun atau Membunuh Kreativitas..??


Anton adalah nama panggilan tetangga saya. Nama lengkapnya Antonius Teguh Santosa. Dia duduk di kelas 3, sekolah dasar swasta didekat rumah kami.  Ayah dan ibunya berpendidikan S2 dan keduanya berprofesi sebagai pegawai negeri, yang hidup sederhana.Anton sering memanjat pohon mangga yang sedang berbuah, atau main petak-umpet dengan teman-temannya di halaman rumah saya. Kelihatan bahwa Anton anak cerdas, kreatif, dan berani untuk mengungkapkan pendapatnya. Saya sering “berdiskusi” cukup seru, ketika mereka sedang istirahat, setelah lelah bermain. 

 Suatu hari, saya melihat Anton termenung lesu dan duduk dibawah pohon  rambutan di halaman rumah kami. Dia duduk sendirian, sementara teman-temannya berlarian kian-kemari sambil berteriak-teriak tak jelas apa yang dimaksud. Saya dekati dia dan saya tegur, mengapa dia termenung dan tidak ikut bermain.  Sambil tetap memasang muka tak bersahabat, Anton berujar dengan nada mengeluh. “Nilai seni lukis saya dapat jelek”, ujarnya. Saya agak terkejut dengan curhat itu. 
 
Setahu saya, Anton anak yang pandai melukis, dan coretannya selalu out of the box. Saya mulai tertarik dengan diskusi ini, dan meminta Anton kembali ke rumahnya untuk mengambil hasil lukisan tersebut.Tak lama kemudian, sambil setengah berlari, meskipun dengan muka tetap ditekuk, Anton menunjukkan lukisannya yang, menurut saya, sangat luar biasa. Dia menggambar suasana perumahan di kampung kami dengan sangat indah. Jalan-jalan kumuh didekat rumah, disulap menjadi artistik di kertas gambarnya.


Ada catatan dari ibu guru, dipojok atas kertas, yang nampaknya mengomentari warna genteng rumah tetangga. Ia kira-kira berbunyi : “Warna genteng harus merah, hitam atau coklat”, sementara warna di kertas gambar adalah biru, hijau dan bahkan ungu.Ibu guru, dalam cerita diatas, tidak salah. Ia harus memenuhi pakem atau kisi-kisi yang digariskan oleh atasannya tentang warna suatu obyek benda. Mungkin dia hanya kurang memahami bagaimana seorang pendidik harus menyampaikan pesan kepada anak-didiknya. 

Pendidikan bagi anak-anak seusia Anton sangat menentukan, kritikal. Ia bisa mengubah jalan hidup anak-didik. Ia menjadi faktor penentu bagaimana jiwa dan karakter seorang anak terbentuk.  Menjadi positif berkembang, mandeg atau bahkan negatif-terbunuh.  Sementara itu, para psikolog pendidikan yang menganut paham psikologi-positif sangat menganjurkan agar anak seusia Anton mendapat pendidikan dalam suasana yang bebas, demokratis dan interaktif. Bahkan cenderung tak berpola. 
 
Tidak heran bahwa pemikiran anak-didik yang out the box justru menjadi pemicu dan pemacu tumbuh-kembang kreativitas sang anak. Mereka yang mendapat suasana kebebasan dalam berpikir dan mengemukakan pemikirannya, anak-didik yang berani berbeda dengan pakem dan kisi-kisi yang biasa-biasa saja, sang anak yang melakukan kesalahan normatif, cenderung liar dan cenderung melanggar aturan, justru merupakan sumber tumbuhnya anak-bangsa yang kreatif.

Cerita senada dialami anak seusia Anton 10 tahun berselang, yang kecewa dengan guru, karena dihukum ketika memanjat tembok sekolah untuk mengambil bola yang terbuang keluar halaman sekolah.Aturan sekolah mengatakan bahwa keluar halaman sekolah di jam belajar, harus izin kepala sekolah dan, tentunya, harus lewat pintu gerbang. Si anak yang merasa bahwa “aturan” tersebut justru memperlama proses pengambilan bola, sementara waktu-mainnya tinggal sebentar, ambil jalan pintas.Dia memang melanggar aturan sekolah, tetapi sekaligus menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya mempunyai bekal kreativitas yang sangat dibutuhkan untuk berkembang.

Dia mempunyai keberanian untuk memutuskan yang terbaik bagi kelompoknya, dia pengambil keputusan yang decisive, dia berani mengambil resiko, dia mempunyai need of achievement yang tinggi, tapi semuanya itu sangat mungkin musna karena kemudian disalahkan, bahkan dihukum oleh institusi pendidikan, yang namanya sekolah.

Pendidikan yang baik memang harus mempunyai latar-belakang budaya masyarakatnya. Ironisnya, masyarakat Indonesia pada umumnya, yang tercermin pada budaya pendidikan di sekolah-sekolah, justru mempunyai konteks yang bertolak belakang dengan apa yang disyaratkan untuk membangun manusia kreatif.Pendidikan satu arah, instruktif, otoritatif, mengacu pada pola tertentu secara mati, tanpa kebebasan dan dengan tingkat uncertainty avoidance yang tinggi melahirkan anak-bangsa yang cenderung normatif, tidak kreatif, yes-man, introvert dan tidak melahirkan terobosan-terobosan yang dibutuhkan suatu bangsa untuk maju.

Satu hal yang menjadi kendala dalam penciptaan iklim pendidikan seperti diatas adalah syarat ketelatenan dari para pendidik. “Membiarkan” anak-didik untuk berkembang bebas, tanpa merusak pola dan tatanan yang ada, adalah dua hal yang sering sulit dikompromikan. Tetapi, terobosan-terobosan  kreatif dan kesabaran berlebih membuahkan hasil yang mengagumkan, meskipun harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.  Tiba-tiba saya ingat pendapat Andrew S Grove, the former CEO Intel Corporation, yang mengatakan bahwa inovasi tidak akan lahir pada masa dan manusia tenang, ia sering lahir pada situasi anarkis.

*sumber : Kompasiana/Pm Susbandono

7/02/2012

Tanpa Dipaksa, Anak-Anak Bisa Loh Berbahasa Asing




Memperkenalkan bahasa asing?? Banyak orang tua yakin memperkenalkan asing pada anak sejak dini lebih menguntungkan dan efektif. Karena anak-anak lebih mudah menyerapnya tanpa kerja keras . Menurut para ahli, belajar bahasa asing lebih mudah pada anak-anak di bawah umur 10 tahun dan lebih mudah lagi pada balita, sedangkan pada orang dewasa butuh upaya lebih keras untuk mempelajarinya. Saya termasuk yang meyakini pendapat tersebut. Karena sesungguhnya manusia memang diberikan Tuhan kemampuan untuk mengenal beragam bahasa.

Sebenarnya saya tidak mengajarkan pada anak-anak saya bahasa asing (Inggris) secara khusus, karena saya sendiri kurang menguasainya. Komunikasi di rumah malah menggunakan bahasa daerah (Jawa) dan bahasa Indonesia. Anak-anak belajar bahasa Inggris hanya di sekolah, bahasa Inggris pasif bukan aktif. Kami orang tuanya juga tidak memaksakannya untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di luar jam sekolah. Pernah juga 2 anak saya (SD dan SMP) ikut kursus tapi mereka sepertinya tidak betah dengan suasana klasikal yang membosankan menurut mereka.

Beda dengan kedua kakaknya yang sempat saya ikutkan kursus bahasa Inggris walaupun akhirnya tidak betah, si bungsu bahkan sama sekali tidak pernah saya ikutkan kursus. Dia hanya mengenal bahasa Inggris di sekolahnya dan karena saat itu dia masih kelas 1 SD pelajaran bahasa Inggris hanya memperkenalkan kosa kata sederhana seperti nama buah-buahan, warna, dan nama anggota tubuh. Itu saja.

Ternyata hal ini membawa sedikit kegalauan dan kekhawatiran pada saya sebagai ibu ketika kami harus pindah ke luar negeri. Jelas bahasa Inggris yang pasif akan membawa masalah untuk anak-anak kami jika sekolah di sekolah Internasional nanti. Tapi setelah saya berdiskusi dengan suami, kami berketetapan bahwa 2 anak yang besar yang masing-masing kelas 6 SD dan kelas 9 (SMP) akan sekolah di sekolah Indonesia, pertimbangannya selain berada di kelas ujian, mereka akan lebih sulit mengikuti pelajaran di sekolah Internasional yang bahasa pengantarnya adalah bahasa  Inggris. Untung saja di Kairo ada sekolah berkurikulum sama dengan sekolah-sekolah Indonesia jadi tidak ada kesulitan dalam menyesuaikan pelajaran sekolah mereka.


Si bungsu Faiz yang berumur 7 tahun dan saat kami akan pindah ke Kairo dia naik ke kelas 2 SD kami masukkan ke sebuah sekolah Internasional berkurikulum Inggris (British School). Pertimbangannya ya itu tadi, karena dia masih berumur 7 tahun jadi masih mudah untuk belajar bahasa asing dan pelajaran sekolahnya tentu saja belum sebanyak kakak-kakaknya.

Setelah kami daftarkan, lalu sekolah menentukan kapan Faiz harus mengikuti assessment test atau sejenis post test untuk mengetahui sejauh mana kemampuan bahasa Inggrisnya. Mulai dari sini saya agak sedikit khawatir karena Faiz sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan orang asing dan hanya belajar sedikit kosakata dasar di sekolahnya di Indonesia sebelum pindah ke Kairo.

Tibalah hari menegangkan (buat saya) itu, saya datang ke sekolah bersama 2 kakak perempuan Faiz karena ayahnya masuk kerja. Saya lihat Faiz raut wajahnya biasa saja, tidak menyiratkan ketegangan sama sekali. Sampai di sekolah dia di sambut Mr. Graham McRoy untuk diajak ke ruangan test tanpa saya. Saya pikir dia akan menangis karena tegang setelah keluar dari ruangan nanti. Pertama kalinya dia berkomunikasi dengan orang asing seorang diri dalam sebuah ruangan. Saya saja yang sudah dewasa begini merasakan aura ketegangan dalam ruangan itu apalagi anak-anak seumuran Faiz.

Ternyata apa yang terjadi setelah dia keluar dari ruangan? Faiz keluar dengan santai dan senyum khas anak-anaknya. Hmmm... saya pun ikut lega melihatnya. Lalu saya membombardir dia dengan pertanyaan, "Faiz ditanya apa, bisa nggak jawab pertanyaanya, ngapain aja di dalam tadi..?" Lalu apa jawabnya, "Faiz bisa koq, terus kalau nggak ngerti Faiz geleng-geleng aja." Hehehe.... saya tersenyum mendengar jawabannya yang lugu itu.

Hari pertama sekolah, tidak kalah menegangkan untuk saya sebagai ibu. Saya antar Faiz sampai ke dalam kelasnya. Bertemu dengan Miss Coppard, gurunya yang orang Inggris dan 12 orang anak calon teman Faiz yang tentu saja berwajah asing semua, ada yang Jepang, Ghana, Perancis, Jerman, Korea, India dan saya tidak menemukan wajah Indonesia atau Malaysia di dalam kelas Faiz. Kalau ada teman yang bisa berbahasa Indonesia atau Melayu paling tidak saya tidak ragu meninggalkan Faiz sendirian di tengah orang-orang dan lingkungan asing yang sama sekali baru buat anak seumuran dia. Nyatanya semuanya asing, dan saya mau tidak mau harus tega meninggalkan Faiz di sekolah untuk bergabung bersama teman-teman barunya. Akhirnya saya pun pulang dengan galau dan sempat bepikiran pulang sekolah nanti dia akan sesenggukan menangis dan mogok pergi sekolah besoknya.

Selama dia sekolah hari itu, ternyata bukan hanya saya yang dibuat tegang dengan keadaan ini tapi ternyata sang ayah juga tegang. Bolak balik menelpon saya hanya sekedar mengungkapkan kegalauannya (sama dong kayak saya hehehe...). Katanya,"Faiz di sekolah gimana ya? Dia nangis nggak ya?" Tentu saja saya jawab, "Tau deh... tunggu saja sampai jam 3 nanti."  Teng!! jam 3, Saatnya pulang sekolah saya menjemput Faiz pulang sekolah. Ternyata oh ternyata, seharian saya bayangkan dia akan berurai air mata saat pulang sekolah, tidak terbukti. Dia tetap saja santai dengan raut wajah yang tidak tegang dengan senyum seperti biasa. Oalahhh... lega saya.



Beberapa bulan berlalu, saya mengamati perkembangan Faiz dari hari kehari. Pernah kami mencoba untuk menerapkan English day di rumah agar Faiz bisa berkomunikasi aktif  dan menambah kosa kata baru. Tapi ternyata tidak berhasil. Awalnya sih mau, tapi lama-lama program ini luntur dan lenyap karena Faiz tidak pernah mau berbahasa Inggris di rumah. Saya putar DVD belajar bahasa Inggris dia juga tidak pernah tertarik menontonnya. Dan kami tidak memaksanya. 

Tapi kadang-kadang dia keceplosan berbicara dengan bahasa Inggris pada saya. Misalnya; "Ibu, where is my belt?" , "Hey, look at that!", "Yes! I can do it". Tentu saya takjub dengan perkembangannya itu karena hanya berselang 1,5 bulan dia sudah mampu walaupun hanya percakapan yang sederhana. Dia bisa mengerjakan tugas yang diberikan sekolah seperti menyusun kalimat sederhana, soal logika matematika dan tentu saja membaca buku cerita 15 halaman sebagai makanan sehari hari yang jadi PRnya.. Dia juga ikut football club di sekolah karena dia memang hobi main bola.

Saat akhir term tepat 4 bulan Faiz sekolah, ada undangan ke sekolah untuk konsultasi tentang perkembangan anak-anak di sekolah dengan orang tua masing-masing secara personal. Kesempatan menanyakan perkembangan Faiz pada gurunya. Menurut keterangan Miss Coppard, awal masuk sekolah Faiz itu diam di kelas, tidak pernah bergaul dengan teman-temannya, kalau menulis lama sekali. Tapi sekarang, Faiz sudah punya banyak teman dan bergaul tanpa canggung dengan mereka. Komunikasinya terlihat sangat lancar walaupun berkomunikasi dengan saya masih agak malu-malu, kata Miss Coppard. Menulis, mengerjakan soal matematika, belajar IT (komputer) sudah sangat signifikan perubahannya.

Faiz adalah anak yang unik. Dia tidak mau dipaksa belajar, karena akan belajar kalau dirasa perlu dan dia sangat tidak suka dipuji, dia akan ngambek jika saya melontarkan pujian seperti,"wahhh... Faiz hebat ya" di depan orang banyak. Ini yang terjadi tadi malam saat saya tidak sengaja membuka akun facebook-nya. Facebook hanya digunakannya untuk berkomunikasi dengan sepupu dan saudaranya. Saya melihat percakapannya dengan salah seorang sepupunya (kelas 2 SMP) di kolom inbox dengan bahasa Inggris yang saya cukup takjub dibuatnya.
Ini cuplikan percakapan mereka (tanpa di edit) :


Faiz      : Hello, how are you

Fahmi :  hello I'm fine and you

Faiz      : me too

Fahmi : What about your school

Faiz      : Good. I have football club. My team is won 6-0 and than 5-3

Fahmi : oh that's good, you make a gool?

Faiz     :  I made a goal 5 and 4. Is not gool but it was goal.

Fahmi : Yes  I'm wrong hahahaha

Faiz     : I like Arsenal

Fahmi :  i like barcelona and i like messi , what about you ? what your favourite player ?

Faiz     : I like V Persie and Arteta

Fahmi : Why you like he?

Faiz     : Because he was good at playing. What about you?

Fahmi : but messi have very good skill

Faiz     : I know, But arteta he was good at kicking (long kicking)

Fahmi : but ronaldo is better then arteta

Faiz     : I know

Fahmi : yee... all know. Faiz I will go offline goodbye

Faiz     : Bye


Tahukah apa reaksinya ketika saya memuji kehebatan bahasa Inggrisnya di depan ayah dan kakak-kakaknya, "Jangan dikasih tau!! Faiz nggak mau.." Saya pun hanya bisa menyimpan senyum saya melihat reaksinya itu. hehehe...

Saat ini dia juga berani main ke rumah tetangga apartemen kami yang orang Korea dan anaknya satu sekolah dengan Faiz. Saat saya datang ke sekolah menghadiri kegiatan di sekolah saya pun mengamati bagaimana interaksi Faiz dengan teman-temannya. Sungguh saya lihat perkembangan kemampuan bahasanya sangat signifikan. Dari nol atau tidak pernah berbahasa Inggris, dalam waktu 8 bulan dia sudah mampu berkomunikasi aktif dengan bahasa asing. Oh iya, di sekolah dia juga dikenalkan dengan bahasa Arab dan Perancis, dan dia bisa.

Mungkin bisa sedikit saya simpulkan bagaimana tips mengajarkan bahasa asing pada anak-anak tanpa paksaan berdasarkan pengalaman melihat perkembangan Faiz.

  1. Jangan paksakan anak-anak untuk belajar terutama bahasa. Semakin ditekan, materi semakin susah masuknya. Lakukan sambil bermain.
  2. Berikan bahan bacaan semacam buku cerita sederhana berwarna dan bergambar yang jumlah halamannya tidak terlalu tebal (maksimal 20 halaman). Lakukan setiap hari membaca dan sedikit membimbingnya untuk mengetahui artinya. Coba baca e-book yang bisa di download gratis. 
  3. Kalau dia suka main game komputer, jangan dilarang tapi batasi saja waktunya. Karena dari situ banyak kosa kata bahasa Inggris yang bisa dia pelajari.  
  4. Sering nonton film berbahasa Inggris, lebih baik yang ada subtittle bahasa Inggrisnya. Jadi selain mendengar dia juga bisa membaca. Dampingi,  sekaligus sedikit menjelaskan jika ada kosakata yang tidak dia mengerti.

Yang jelas saya telah membuktikan bahwa masa anak-anak terutama di bawah 10 tahun adalah saat yang tepat untuk mengajarkan bahasa asing kepada mereka. Dengan catatan TANPA MEMAKSA...

Seperti pepatah, Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, Belajar saat dewasa seperti mengukir di atas air. 
Selamat mencoba.. Salam.

Tes Calistung untuk Masuk SD, Perlu Nggak Sih??




Tahun ajaran baru sudah di depan mata, inilah saat yang paling merepotkan bagi para orang tua. Bukan saja yang putra putrinya masuk perguruan tinggi, SMU, dan SMP tidak ketinggalan orang tua yang anaknya masuk play group dan TK juga ikut sibuk memilih sekolah yang "kualitasnya" paling bagus. Tentu saja demi pendidikan terbaik untuk anak-anak.

Saya pun jadi ingat saat saya tinggal sebuah perumahan yang umumnya dihuni keluarga muda di Pekanbaru. Menjelang tahun ajaran baru seperti ini para ibu sibuk ngobrolin sekolah TK paling bagus menurut mereka. Tak jarang mereka beradu argumentasi untuk mempertahankan pendapat bahwa sekolah pilihannya lah yang paling bagus. Untuk saya pribadi, memilih sekolah TK nggak usah terlalu dibikin rumit pilih saja sekolah dekat rumah, alasannya tentu karena lebih mudah untuk urusan antar jemputnya.

Ternyata orang tua yang memiliki putra putri usia SD juga tak kalah pusingnya. Karena masuk SD sekarang syaratnya bukan main ribetnya, dibandingkan tahun 1982 saat saya masuk SD. Kalau dulu, asal mau daftar sekolah saja pihak sekolah pasti dengan senang hati menerima. Sekarang SD saja sudah banyak macamnya, ada yang namanya sekolah unggulan, sekolah binaan, sekolah Islam terpadu, sekolah alam, sekolah full day dan entah apa lagi namanya. Label sekolah favorit disematkan pada sekolah-sekolah tertentu dengan fasilitas sekolah yang lengkap dan nilai UASBN lulusannya di atas rata-rata. Semakin banyak jenis sekolah, semakin banyak pula jenis tes masuknya, tak kalah dengan tes masuk perguruan tinggi.

Fenomena tes calistung memang marak beberapa tahun belakangan ini. Katanya sih untuk menyaring siswa yang akan mendaftar ke sebuah SD, terutama sekolah unggulan atau sekolah favorit milik pemerintah atau SD negeri. Karena peminatnya lebih banyak dari daya tampung sekolah maka pihak sekolah menyeleksi calon siswa dengan tes calistung selain seleksi umur. Banyak orang mempertanyakan tes ini, karena dalam peraturan penerimaan siswa baru, tes calistung tidak disyaratkan untuk masuk SD. Namun kenyataannya banyak SD yang melakukannya.

Berikut sebagian bunyi PP 17 tahun 2010 tentang penerimaan siswa baru SD :

Pasal 69 :
(5) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.

Pasal 70 :
(1) Dalam hal jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan, maka pemilihan peserta didik pada SD/MI berdasarkan pada usia calon peserta didik dengan prioritas dari yang paling tua.
(2) Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada jarak tempat tinggal calon peserta didik yang paling dekat dengan satuan pendidikan.
(3) Jika usia dan/atau jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan satuan pendidikan             sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan.

Menurut para psikolog, membaca, menulis dan berhitung (calistung) ini tidak boleh diajarkan pada anak-anak usia TK. TK adalah tempat bermain dan tempat anak belajar bersosialisasi, calistung boleh diajarkan sepanjang hanya mengenalkan saja, itu juga harus dikenalkan sambil bermain. Saya ingat jaman saya TK dulu memang hanya diajarkan menggambar bulat, garis, segitiga dan menyanyi saja. Namun sekarang "kurikulum" TK sudah jauh berubah, dengan memasukkan calistung jadi bagian dari program belajarnya.

Saya juga memiliki pengalaman yang berbeda dengan ketiga anak saya soal calistung ini.

Anak pertama,

Saat TK A dia sudah pandai membaca Iqra', membaca koran, menulis walaupun di sekolah tidak secara khusus mengajarkannya namun di rumah memang dikondisikan untuk bisa. Lalu saat masuk TK B dia ikut sebuah kursus mental aritmatika dan kemampuan berhitungnya tentu saja lebih baik dari anak seusianya. Saya pikir agak memaksa sepertinya, tapi si anak tidak merasa bosan dan tertekan dengan keadaannya ini.

Namun ketika masuk SD, anak ini bingung ketika diberikan soal matematika berupa soal cerita. Karena dia hanya terbiasa menghitung cepat (bahkan perkalian) alhasil dia tidak mengerti mengenai konsep dan analisa. Misalnya ada soal seperti ini : Ayah memiliki 5 buah permen, diberikan pada kakak 2 buah, berapakah sisanya? Dia pasti kebingungan menjawab soal ini.

Anak kedua

Karena pengalaman dengan anak pertama, ketika TK saya biarkan saja dia bermain tanpa mengajarkannya membaca, dan berhitung secara khusus. Kalau dia bertanya tentang huruf baru kami beritahu. Sama halnya dengan angka, dia susah sekali mengenal dan menghafal angka sehingga sering terbalik-balik menyebutkannya terutama angka belasan. Dan kami membiarkannya sambil membimbing tanpa memaksanya untuk hafal.

Sampai akhirnya dia mampu menghafal dan tidak salah lagi dalam menulis dan menyebut angka waktu di televisi ada tayangan iklan kampanye (tahun 2004) yang menyebutkan tanda gambar dengan angkanya. Tayangan televisi yang berulang-ulang, rupanya membuat dia otomatis mengingatnya.

Anak Ketiga

Si bungsu bisa membaca saat duduk di TK B. Calistung diajarkan di TK tempat dia sekolah. Tapi dia hanya mau belajar di sekolah saja, dan tidak mau mengulangnya di rumah. Sama seperti anak kedua, saya tidak memaksanya untuk belajar lagi di rumah. Sejak bisa membaca, dia gemar sekali membaca headline surat kabar langganan kami. Gemar juga bermain game dengan menu bahasa Inggris, hobinya juga menghafalkan plat nomor kendaraan, misalnya B dari Jakarta, L dari Surabaya, BM Pekanbaru hingga hampir semuanya dia tahu.

Berhitung juga bisa dia lakukan sampai bersusun 3, diapun sepertinya senang jika bisa menyelesaikan soal-soal yang kami anggap sulit untuk anak seumurannya. Kami tidak pernah memaksakan, kalau dia mau dibuatkan soal ya kami buatkan, tapi kalau bosan tidak kami teruskan. Pokoknya asal dia senang dan enjoy saja.

Untuk Apa Tes Calistung?

Soal perlu dan tidaknya tes calistung pada penerimaan siswa baru di SD memang masih mengundang banyak pro dan kontra. Saya sendiri melihat tes calistung ini sebenarnya perlu dilakukan, tapi tidak untuk menentukan diterima atau tidaknya seorang siswa. Tes ini lebih kepada tes kemampuan, untuk memudahkan guru mengelompokkannya hingga dapat diberikan latihan calistung lebih intensif.

Ada hal yang sebenarnya kontradiktif antara aturan PP no. 69 yang sudah disebutkan di atas dengan kurikulum yang berlaku untuk kelas 1 SD. Lihat saja isi buku-buku SD kelas 1 sekarang, saya pikir sangat tidak memungkinkan jika anak yang tidak bisa membaca belajar menggunakan buku-buku itu. Isi buku yang padat sangat tidak ramah untuk anak-anak yang belum bisa membaca.

Lain halnya waktu saya kelas 1 SD dulu, pelajaran pada awal masuk adalah bacaan, "Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi dan lain sebagainya". Guru masih membimbing siswa untuk mengejanya, tulisan dalam buku juga berupa tulisan yang jarang dengan ukuran yang cukup besar. Jumlah mata pelajaran hanya 3 yaitu bahasa Indonesia, Matematika dan IPA. Bandingkan dengan pelajaran anak kelas 1 SD sekarang. Saya pun masih ingat ada beberapa teman yang masih belum lancar membaca sampai kelas 3.

Sedikit cerita tentang anak yang belum bisa membaca yang kebetulan menjadi teman anak bungsu saya saat duduk di kelas 1 sebuah SD Negeri di Pekanbaru. Karena dia tidak bisa membaca, maka otomatis dia selalu tertinggal mengikuti pelajaran. Guru sudah memberi tambahan untuk belajar membaca di luar jam sekolah tapi sepertinya kurang berhasil.  Alhasil pada akhir tahun ajaran, saat kenaikan kelas anak tersebut tidak naik kelas.

Jadi menurut saya, jika pemerintah melarang sekolah untuk mengadakan tes calistung untuk syarat masuk SD, kurikulum SD terutama kelas 1 harus dirubah. Bukan seperti kurikulum yang sangat padat seperti sekarang. Bayangkan saja jumlah mata pelajaran yang harus dipelajari anak-anak itu, ada sekitar 7 mata pelajaran belum lagi mata pelajaran muatan lokal. Seringkali saya tidak tega melihat anak-anak itu menyandang tas yang beratnya mungkin sama dengan tas saya saat SMP dulu.

Saya sih berharap pendidikan di Indonesia akan semakin baik dan berkualitas tanpa membuat anak-anak kehilangan waktu bermainnya. (ellys)

Salam hangat...

Bermain Membantu Anak Lebih Kreatif


almightydad.com



Dunia anak adalah dunia bermain, tak heran jika dalam pikiran mereka hanya ada permainan. Jangan buru-buru panik bila menyadari anak hanya ingin bermain. Psikolog Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd, bahkan mengungkapkan bahwa anak-anak dengan usia bermain (sampai usia 12 tahun) justru harus diberi waktu lebih untuk bermain.

"Sampai sekarang banyak orangtua yang cenderung merasa khawatir karena anak-anaknya lebih sering bermain dibanding belajar," ungkap Diana kepada Kompas Female, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Karena menganggap anak terlalu sering bermain, orangtua lalu menjejali waktu kosong anak dengan berbagai les pelajaran sepulang sekolah. Sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan karena bisa membuat anak menjadi stres dan cenderung tidak kreatif. Tetapi, jika ingin tetap mengisi waktu anak dengan kegiatan yang bermanfaat, sebaiknya hindari memberikan les pelajaran kepada anak. Anda bisa memberi mereka les keterampilan dan kesenian seperti les menari, melukis, musik, dan lain sebagainya.

"Les seperti ini juga bisa membantu merangsang kreativitas dan perkembangan otak mereka," ungkap Diana.

Menurut sebuah riset, anak-anak dalam usia bermain yang diberi waktu lebih lama untuk bermain di luar rumah dan ruang untuk berekspresi, ternyata jauh lebih pandai dan lebih kreatif dibanding anak yang hanya belajar formal di sekolah atau di tempat kursus. "Ketika anak bermain di luar rumah mereka akan menemukan berbagai hal baru, dan mampu mengkomunikasikan keinginannya kepada teman-temannya," tukasnya.

Bermain terbukti membantu anak untuk lebih mudah bersosialisasi dengan teman-teman lainnya. Ketika bergaul dengan anak-anak lain, anak mungkin akan menemukan beragam konflik. Proses bermain dan berkonflik dengan teman ini akan membantu membentuk kemampuan anak untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dengan teman. Dalam prosesnya, bermain juga kerap diidentikkan dengan proses kreatif yang dialaminya.

"Waktu bermain, anak juga dituntut untuk lebih kreatif dengan menciptakan permainan sendiri dari bahan yang ada di sekitarnya, agar permainan mereka lebih menyenangkan," tutur psikolog yang berpraktik di RS Pluit dan Intermed Health Care ini.

Strategi membuat anak mau belajar

Untuk menghindari stres pada anak, Diana menyarankan untuk tidak terlalu membebani anak dengan berbagai pelajaran sepulang sekolah. Sebaiknya, beri waktu anak untuk bermain setelah pulang sekolah dan belajar di sore hari. "Riset membuktikan bahwa setelah bermain, otak anak menjadi lebih segar dan lebih siap untuk menerima pelajaran. Proses belajar pun jadi menyenangkan bagi mereka," tambah pengajar di James Cook University, Singapura, ini.

Namun sebagai orangtua pasti Anda tak ingin anak menjadi malas belajar. Ada strategi yang bisa dilakukan untuk menyiasati agar anak tak hanya suka bermain, tapi juga suka belajar. "Selang-selingkan antara kegiatan dan jadwal yang disukai dengan yang tidak disukainya," tukasnya.

Waktu bermain bisa diselang-seling dengan waktu belajar. Sepulang sekolah, biarkan anak bermain sampai siang hari. Sore harinya, beri anak waktu untuk belajar, dan mengerjakan semua tugas sekolahnya. Malam hari sebelum tidur, anak boleh menonton televisi. Jadwal yang berselang-seling ini bisa membantu anak untuk mengerjakan tugas mereka lebih cepat, tepat, dan bersemangat untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, mereka bisa segera melakukan hal yang diinginkannya.

*sumber : KompasFemale

7/01/2012

Masihkah Angka Menjadi Acuan Untuk Menilai Prestasi Anak?



school.woboe.org


Suatu hari, Faiz (7 th) anak bungsu saya yang duduk di Year 3 atau setingkat dengan kelas 2 SD di Indonesia, mendapatkan PR dari sekolahnya berupa selembar kertas HVS berisi sebuah pertanyaan, "Apa yang kamu ketahui tentang Sudan dan South Sudan?". Saya setengah takjub dengan reaksinya saat itu. Dia buka komputer yang otomatis terkoneksi dengan internet, lalu dia buka google dan mengetikkan key words Sudan dan di window sebelahnya dia ketikkan South Sudan. Setelah menemukan informasinya di situs Wikipedia, dia tulis di kertas PRnya itu.  Sambil menulis dia berkata pada saya, "ohhhh ternyata sungai Nil itu melewati Sudan ya Bu...,  South Sudan itu ternyata baru merdeka tahun 2011..."

Wooowww.... saya takjub dengan cara gurunya memberikan PR. Bagaimana guru memberikan pertanyaan yang memberi ruang pada anak-anak untuk kreatif mencari jawaban dari PRnya itu. Walaupun hanya sebagian informasi yang didapatkannya tentang Sudan dan South Sudan tapi menurut saya informasi itu akan terekam kuat dalam otaknya. Karena informasi yang didapatkannya bukan text book atau hafalan dari buku, tapi dia dapatkan sendiri melalui media internet.

Bukan hanya itu, PR matematikapun demikian. Bagaimana menuntut anak-anak memakai logika dan analisa mereka. Guru memberikan gambar bentuk tiga dimensi seperti tabung, kubus, limas, dan balok lalu siswa di perintahkan untuk mendiskripsikannya sendiri. Jarang sekali saya melihat Faiz merasa terbebani dengan PRnya karena PR tidak pernah lebih dari 2 saja, dan itupun berupa work sheet atau lembaran kertas. Menu wajib hariannya adalah reading. Tapi jangan pikir bahwa bacaannya hanya sekedar cerita bergambar saja, di dalam buku cerita yang tidak lebih dari 15 lembar itu ada muatan bidang ilmu lain seperti sains dan ilmu sosial, dan ini tidak disadari anak-anak tapi tetap melekat kuat karena isi cerita dan gambarnya sangat menarik untuk anak-anak.

Khusus agama, kami orang tuanya memberikan di rumah. Rutin diberikan setelah sholat berjamaah untuk mengaji dan cerita-cerita bermuatan agama tidak kami patok waktu khusus tapi kami berikan saat santai. Karena ini pun perlu untuk pembekalan spiritual quotient-nya

Saya pun lalu ingat bagaimana saat dia bermain computer game bola kemudian dia berhasil menghafal nama negara beserta ibukotanya dan menunjukkan tempatnya di globe saat usianya baru 5 tahun. Dia memang gemar sekali bermain game ini, dan ketika dia bermain, ayahnya selalu memberitahu informasi yang berkaitan dengan mainannya ini. Misalnya saat dia memainkan klub Inggris, ayahnya memberitahukan bahwa Ibukota Inggris itu adalah London dan beberapa informasi lain tentang Inggris.

Belajar tanpa banyak teori dan memberikan pertanyaan pancingan cukup efektif  untuk anak-anak usia di bawah 10 tahun. Entah hal ini benar atau tidak, tapi saya merasakan dampaknya. Terlalu banyak buku bahan pelajaran sepertinya membuat anak-anak  illfeel duluan. Buku-buku yang tebal penuh tulisan tentu tidak terlalu menarik untuk anak-anak. Dengan pertanyaan pancingan lalu mencari jawabannya sendiri atau dengan memberikan sebuah informasi saat dia melakukan hobinya membuat informasi itu melekat kuat di otaknya.

Beberapa hari lalu saya menerima progress report, mungkin sejenis rapor kalau di Indonesia dari sekolah Faiz. Tidak seperti rapor umumnya yang berisi angka-angka yang menggambarkan prestasi akademik siswa. Yang saya terima kemarin adalah berupa deskripsi pencapaian materi. Seperti ini misalnya :
13327435151970310821

Tidak seperti biasanya, di sekolah Indonesia dulu yang ketika menerima rapor orangtua saling bertanya, "Anaknya rangking berapa bu?" Di sini.... karena tidak ada angka atau huruf sebagai penilaian terhadap prestasi, jadi rangking atau peringkat pun otomatis tidak ada. Usaha orang tua yang terkadang sangat berlebihan untuk "memaksa" anak mengikuti les di luar jam sekolah hanya untuk mendongkrak nilai dan gengsi di mata orang tua lain. 

Jadi kalau begini, sekolah bukan lagi ajang menimba ilmu tapi ajang berebut gengsi. Sejatinya sekolah adalah tempat menimba ilmu bukan menimba "nilai". Di mana lagi waktu main mereka, pulang sekolah masih harus les ini itu. Saya kerapkali sedih dan tidak tega melihat tas mereka kadang lebih berat dari anak-anak SMA jaman saya dulu, buku-bukunya banyak dan cukup tebal. Tubuh yang mungil tenggelam dalam bobot tas yang berat dan besar. Kasihan sekali...

Penilaian non angka sepertinya sangat ramah dan sangat manusiawi terutama untuk anak-anak kelas 1-4 SD karena usia mereka adalah usia bermain. Angka-angka yang kadang membuat mereka dibandingkan dengan teman-temannya yang lain oleh orang tuanya sendiri. Penilaian prestasi anak-anak tanpa angka membuat dia seperti dihargai secara personal karena hakikatnya anak-anak itu unik dan berbeda. Jadi alangkah tidak arifnya kita kalau mengkotak-kotakkan mereka dalam penjara angka-angka dan rangking atau peringkat dalam sebuah proses belajar.

Bukan bermaksud membandingkan sekolah di Indonesia dengan sekolah Internasional. Kalau ada hal-hal yang baik kenapa tidak kita tiru. Dan tulisan ini lebih kepada sharing pengalaman saja, kalaupun ada pendapat mungkin itu hanya pendapat saya pribadi sebagai orang tua. Kesedihan saya melihat bagaimana waktu bermain anak-anak yang terampas karena padatnya jam belajar. Bukankah orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, bukan saja prestasinya tapi tumbuh kembang mental dan fisiknya.

Tempat Curhat Remaja Itu Bernama Twitter



Jaman sekarang, kalau nggak punya akun twitter rasanya koq rada aneh ya? Nggak gaul katanya.. Sampai-sampai tokoh-tokoh sekelas menteri merasa wajib punya akun twitter. Saya juga punya, tapi nggak punya follower, kacian deh ya... hehehe. Kalau facebook juga punya  walaupun teman saya nggak sampai 500-an. Bukannya ikut-ikutan tren, tapi lebih pada kewajiban sebagai orang tua yang kebetulan memiliki anak remaja. Nyambung nggak sih?

Awalnya saya nggak ngerti twitter itu apa, tapi setelah cari-cari kesana kemari akhirnya saya temukan juga. Abis rasanya nggak afdol kalau punya twitter (walaupun nggak punya follower) tapi nggak ngerti maksudnya hehehe... Twitter itu layanan sosial networking yang kategorinya microblogging alias ngeblog tapi cuma 1 paragraf yang maksimal 140 huruf. Kalau diibaratkan facebook itu sepak bola, nah twitter ini futsal. Kalau blogging itu membuat rumah, maka microblogging itu kandang ayam. Berbeda dengan facebook yang murni jejaring sosial, twitter ini adalah jejaring informasi. Nah... saya udah paham sekarang.

Beberapa tahun lalu facebook mungkin lebih populer dibandingkan twitter, facebook itu kan kakaknya twitter. Facebook lahir tahun 2004 dan twitter 2 tahun setelahnya. Walaupun sampai saat ini facebook populer tapi nampaknya twitter tak kalah boomingnya. Dan, sekarang saya jadi ngerti kenapa si kakak jarang aktif lagi di facebook, ternyata dia lebih sering ngobrol-ngobrol alias ngerumpi sama temennya di twitter.

Punya anak remaja usia belasan tahun memang agak repot. Mungkin ini juga yang dirasakan orangtua saya dulu ya? Remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Katanya sih, masa remaja itu adalah masa yang penuh permasalahan, masa terjadinya krisis identitas dan pencarian jati diri, ingin diakui eksistensi dirinya, suka memberontak, suka bereksperimen, senang berekplorasi, memiliki banyak khayalan, mimpi dan sejenisnya serta emosinya yang kerap tidak stabil. Mungkin saya dulu juga begitu, cuma suka nggak ngerasa aja. Ngerasanya suka nggak cocok sama ayah, jadi suka berontak gitu hehehe...

Secara umum karakteristik masa remaja saya dengan anak saya sekarang ini tidak jauh berbeda. Karena memang begitulah tahap perkembangan psikologisnya, seperti yang saya baca di artikel-artikel dan buku-buku tentang remaja. Tapi ada beberapa hal yang perbedaannya sangat signifikan, diantaranya cara mengungkapkan isi hati. Jaman saya dulu kalau lagi nggak enak hati atau galau istilah sekarang, saya lebih suka nulis di buku harian. Apa saja saya tulis di buku itu, terutama kalau nggak ada teman yang nyaman untuk diajak ngomong.

Lain dulu lain sekarang, twitter yang awalnya sebuah microblogging yang bertujuan sharing informasi saat ini sudah bergeser fungsi terutama di kalangan remaja sebagai diary tempat curhat.  Apa aja diomongin di twitter, hal nggak penting sekalipun. Dulu jaman saya remaja curhatnya di buku, remaja sekarang curhat di  twitter. Dulu kalau ada masalah berusaha orang lain nggak tahu, sekarang malah kalau bisa semua orang tahu. Mungkin ini ya yang namanya menunjukkan eksistensi diri atau mencari perhatian orang lain.
Makanya saya berpikir cukup penting untuk orang tua terutama yang memiliki anak remaja memiliki akun twitter sebagai sarana untuk mengawasi dan menjembatani komunikasi dengan mereka yang kadang kurang lancar. Dengan twitter saya jadi tahu dia tidak suka dengan perlakuan saya padanya, saya juga tahu kalau ternyata kata-kata saya membuatnya tersinggung, dan banyak lagi curahan hati yang mungkin tidak dia ungkapkan pada saya terungkap di twitter. Itu terjadi bukan hanya pada anak saya saja, keponakan, sepupu dan adik saya yang berusia remaja juga suka curhatnya di twitter. Hhhmmm... twitter memang sepertinya sudah menjadi tempat berkeluh kesah yang nyaman buat mereka.

Memahami remaja bukanlah hal yang mudah tapi kita dapat mempelajarinya dengan memahami tahap perkembangan psikologis mereka. Membangun komunikasi yang baik adalah salah satu cara untuk tidak membiarkan mereka menjadikan hanya twitter teman curhatnya. Dan untuk mengerti mereka kita sebagai orang tua juga harus "nyemplung" di dunia mereka, dunia twitter  hehehe...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India