Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan

7/26/2012

Kenapa di Mesir Harga Bahan Pokok Tak Pernah Naik Ya??


Di Indonesia kenaikan harga barang-barang kebutuhan dapur yang mendadak melambung sepertinya menjadi hal lumrah kita dengar terutama saat menjelang Ramadhan dan lebaran. Naiknya permintaan tanpa disertai tersedianya barang menjadi alasan harga barang melambung. Ada yang bilang kenaikan ini wajar, ada pula yang mengatakan bahwa kenaikan ini adalah kebiasaan buruk tahunan. Entah ini sengaja atau memang tidak dipersiapkan sebelumnya, yang jelas stok barang kebutuhan seakan menipis menjelang bulan puasa.

Tulisan mbak Ilyani Sudardjat tentang kemungkinan naiknya harga cabe karena gagal panen dan langkanya kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe juga semakin menambah panjang "penderitaan" konsumen. Bahkan beberapa hari menjelang bulan ramadhan (18/7) saya sempat membaca disebuah media online bahwa harga ayam di Kotabaru, Kalimantan Selatan mencapai 100 ribu rupiah per ekor. Wah..!

Waktu tinggal di Pekanbaru, "pedas"nya harga cabe juga beberapa kali saya rasakan. Waktu itu harga cabe pernah menyentuh harga 80 ribu rupiah/kg. Untungnya saya bukan mania cabe, jadi kenaikan harganya tak berpengaruh banyak pada sendi-sendi perekomian keluarga... hehehe.
Tidak hanya itu, beberapa isu juga bisa menyebabkan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok hingga kadang tak terkendali. Misalnya saja isu kenaikan gaji PNS atau isu naiknya harga BBM, belum terlaksana harga barang di pasar sudah naik duluan.

Harga Bahan Pokok di Mesir

Hampir setahun saya tinggal di Kairo, tentu saja saya sudah akrab dengan urusan yang berbau pasar di kota ini. Maklumlah saya ibu rumah tangga yang terlanjur cinta dengan dapur jadi urusan ke pasar sudah menjadi wilayah kekuasaan saya. Tiap minggu saya memang wajib berurusan dengan pasar dan isinya karena kalau tidak, kulkas di rumah bakalan kosong tak berpenghuni hehehe..

Nah, karena saya sudah akrab dengan aroma pasar maka saya tahu banyak soal harga barang-barang kebutuhan dapur di pasar. Beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, ikan, sayur mayur, buah, bawang merah, bawang putih, sampai cabe merah yang sebelumnya saya pikir tidak tersedia di pasar tradisional Kairo. Sejak pertama saya berbelanja di sebuah pasar di daerah Maadi dekat tempat tinggal saya hingga saat ini, hampir tak pernah saya menemukan kenaikan harga yang signifikan. Padahal beberapa momen besar seperti lebaran Idul Fitri dan Idul Adha juga Ramadhan seperti sekarang saya lalui di Kairo.

Misalnya saja harga bawang merah yang hanya 2 LE (Rp. 3000)/kg, harga itu sudah sejak lama bahkan kata mahasiswa di sini sudah bertahun-tahun harganya ya segitu-gitu saja. Harga daging sapi juga begitu, kalau daging sapi negeri harganya 48-50 LE/kg sedangkan daging sapi beku (impor) harganya berkisar 30-32 LE harga itu tak beranjak saat Idul Fitri dan Ramadhan. Kalau daging ayam, harga perkilonya 15 LE tapi sempat mengalami kenaikan juga sampai 20 LE/kg namun berbalik normal selang 2 minggu, kenaikan itu juga bukan karena momen istimewa.

Kalau cabe nih, harga perkilonya biasanya 4-5 LE tapi beberapa bulan yang lalu pernah naik hingga 20 LE/kg. Sempat mengalami kelangkaan juga tapi berangsur normal 2 bulan terakhir. Pernah saya beli cabe yang harganya 20 LE/kg, seminggu kemudian saya membeli lagi di tempat yang sama harganya jadi 5 LE/kg wahhh.... cepet banget nih turunnya, gumam saya dalam hati.  Beras juga, harga beras yang biasa saya beli adalah  5 LE/kg setara dengan Rp.7.500, kata mahasiswa beras yang mereka beli malah hanya 90 LE sekarung yang isinya 25 kg. Murah banget ya...

Pokoknya selama saya di Kairo, urusan harga bahan kebutuhan dapur tak pernah naik gila-gilaan. Ditambah lagi harga gas LPG yang sangat murah, sebulan saya hanya membayar 10 LE alias hanya Rp. 15.000 saja. Bandingkan dengan di Indonesia, per tabung isi 12 kg harganya Rp. 85.000 kalau normal tapi kalau pas langka harganya bisa melambung jadi di atas Rp. 100.000 per tabung.

Lahan pertanian di Mesir

1334830894667676170
Salah satu lahan pertanian di Kairo

Sebenarnya jika dibandingkan lahan pertanian di Indonesia, Mesir hanya punya secuil tanah subur yang letaknya di delta sungai Nil selebihnya ya tanah gurun gersang nan tandus. Curah hujan di Mesir hanya maksimal 4 kali dalam setahun, jadi pengairannya cukup mengandalkan sungai Nil saja. Indonesia kita tahu adalah negara agraris  iklim tropis dan curah hujan tinggi sehingga tanahnya sangat ideal untuk pertanian dan perkebunan. Kata Koes Plus kan tanah kita tanah surga sampai-sampai kayu pun bisa ditanam dan dimakan.

Tapi saya heran, dengan lahan pertanian yang secuil itu Mesir bisa memenuhi kebutuhan bahan-bahan pokok warganya dan stoknya tak pernah kurang hingga harga-harga barang relatif stabil. Buah-buahan, sayuran selalu tersedia tanpa mengimpor. Beras juga begitu, entah dimana lahan untuk menanam padi saya pun belum pernah melihatnya. Saya hanya pernah melihat lahan gandum di Kairo karena memang gandum adalah bahan utama pembuat roti yang merupakan makanan pokok orang Mesir.

Soal porsi makan orang Mesir, jangan ditanya deh.. dibandingkan kita orang Indonesia mereka 3 kali lipat porsi makan kita. Setengah ayam hanya untuk sekali makan. Saya pun semakin heran, kenapa dengan kebutuhan makan yang sedemikian jumbo, stok bahannya tak pernah berkurang.

Indonesia Negara Pengimpor??

Negara kita kaya dengan sumber daya alam, namun kerapkali mengimpor sesuatu yang sebenarnya sangat mudah di produksi di dalam negeri. Misalnya saja kedelai, beras, ikan bahkan singkong. Kan jadi aneh kalau disebut negara agraris tapi petaninya miskin lalu jadi negara pengimpor beras yang notabene adalah makanan pokok warganya.
Masa sih kalah dengan Mesir yang punya lahan secuil tapi bisa selalu memenuhi kebutuhan warganya dengan harga yang murah. Saya sih bukan pengamat ekonomi ataupun pakar pertanian jadi saya pun tidak tahu kenapa bisa begitu...  :D

Salam hangat..

*sumber : Tulisan saya di Kompasiana

7/16/2012

Asyiknya Masak saat Jauh dari Tanah Air


Memasak adalah rutinitas utama ibu-ibu. Kegiatan di dapur ini wajib hukumnya buat yang menamakan dirinya perempuan, walaupun jaman sekarang nggak ada lagi batasan atau pengkhususan bahwa memasak hanya untuk kaum hawa. Malah saat ini, kaum adam juga makin eksis dengan kegiatan memasak, jadi profesi malah. Memasak buat seorang ibu bukan hanya sekedar hobi atau kesenangan tapi sudah menjadi tugas dan kewajiban kalau mau disayang sama suami. Walaupun gak wajib juga masak sendiri di rumah. Beli makanan di luar terus diangetin di rumah, namanya masak kan....??? Hehehehe.....

Kalau sudah jadi ibu, kalo nggak bisa masak jadi ada yang aneh deh... Biarpun bukan memasak makanan yang didemokan di TV, paling tidak masak telor dadar atau ceplok, bolehlah.... Tapi masa iya sih anak-anak mau dikasih makan telor ceplok terus.. Bakalan protes atau malah demo di depan ibunya nanti. Atau malah jadi mogok makan... Wahhh.. kalau yang ini jangan sampai deh..

Saya sebenarnya bukan termasuk yang hobi dan juga bukan termasuk pinter masak hehehe... Ngaku ya. Yang penting bisalah biarpun gak trampil-trampil amat. Kadang-kadang malas masak malahan... Loh koq?? Iya kalau lagi malas masak beli aja di warung makan dekat rumah. Lauknya tinggal pilih, bahkan bisa 5 macam lauk untuk menu sehari, keren yah... Coba kalau masak sendiri, 5 macam lauk bisa sehari semalam tinggal di dapur. Tapi untuk urusan budget, masak sendiri jelas lebih irit daripada beli di warung. Kalau belinya sekali-sekali sih bisa dimaklumi, lah kalau tiap hari bisa jebol uang belanja ya..... Kalau gini kira-kira para suami protes nggak ya?? Hehehe..

Malas masak terus beli lauk di warung mungkin nggak masalah atau nggak menemui kesulitan kalau kita tinggal di Indonesia. Banyak warung atau restaurant yang menyediakan makanan sesuai dengan keinginan kita. Mau masakan Padang, Jawa, Sunda atau Manado tinggal pilih saja. Mau yang murah sampai yang mahal tinggal pilih. Mau dibungkus atau santap di tempat, terserah anda.

Nah, masak memasak ini akan jadi masalah kalau kita tinggal di luar negeri. Kebiasaan malas masak rupanya nggak berlaku di negeri orang. Mau beli di mana coba??? Pengen sarapan nasi pecel, atau makan siang pake rendang, terus makan malam beli nasi goreng kambing. Hhmmm.... mikir deh kayak orang hamil lagi ngidam hehehe....

Kejadian nih sama saya sekarang ini. Keterpaksaan kadangkala membuat kita jadi mendadak pinter atau jadi banyak ide. Awalnya males jadi rajin, nggak bisa jadi bisa, atau nggak mungkin jadi mungkin. Duuhhh... kayak ngebahas apaaa gitu ya..  Memang saat kita tinggal jauh dari Indonesia, segala sesuatu yang berhubungan dengan makanan jadi hal yang sangat penting. Karena urusan lidah nggak bisa di bohongin terutama lidah Indonesia kita ini.

Makanya ketika saya tinggal di luar negeri seperti saat ini, tiap hari harus masak. Padahal ketika tinggal di Indonesia, mungkin seminggu cuma 3 kali masak sendiri, selebihnya beli. Di Mesir sini nggak mungkin pagi-pagi saya nyari sarapan di warung, selain menunya yang nggak cocok, orang Mesir sarapannya itu jam 11 siang. Keburu keroncongan nih perut.

Bahan-bahan masakan yang nggak ditemukan di sini harus ganti dengan yang lain yang sejenis. Pernah nih saya bikin lontong, hampir 10 kali saya mencoba jadi bubur terus sampai saya patah hati tapi tetap nggak mau nyerah dan akhirnya bisa juga. Kalau tinggal di Indonesia, lontong tinggal beli aja di pasar, paling cuma Rp. 1.000. Masak sayur asem yang isinya pakai buncis mungkin kedengarannya nggak lazim kalau kita tinggalnya di Indonesia. Tapi di sini karena yang mirip kacang panjang itu buncis ya dipake aja. Bikin mi ayam, karena belum bisa bikin mie sendiri akhirnya pake aja spagetti. Kalau tinggal di Indonesia, tinggal panggil abang jual mie ayam keliling, paling cuma Rp. 7.000,-

Pengen siomay, bikin sendiri...




Bikin puding enak..




Urap sayuran..



Itu cuma sebagian contoh, masih banyak lagi yang lain... nanti kalau foto makanan di upload semua di sini jadi pada laper yang baca hehehe...

Jadi hikmahnya, memasak sendiri itu menyenangkan ya.... salam :)

7/14/2012

Sekolah Indonesia (Masih) Primitif..?


Berita tentang hilangnya rapor seorang siswa kelas 4 saat akan naik ke kelas 5 di sebuah sekolah dasar di Gowa, Sulawesi Selatan mengingatkan saya pada peristiwa yang sama beberapa tahun yang lalu.  Walaupun peristiwa yang menimpa anak saya itu tidak sampai menyebabkan dia harus mengulang kelas seperti halnya Aldy namun cukup membuat tekanan psikologis pada anak saya lantaran takut jika bertemu gurunya itu.

Peristiwa hilangnya rapor terjadi pada semester genap kelas 3 sekolah dasar di sebuah sekolah negeri di Pekanbaru, Riau. Waktu itu sepulang sekolah, anak saya menyampaikan pesan dari gurunya bahwa rapor harus segera dikumpulkan karena satu bulan lagi ujian akhir semester sudah dimulai. Lalu saya bilang padanya, bukannya rapor sudah dikumpulkan waktu masuk semester genap yang lalu. Karena memang sudah menjadi kebiasaan saya menyuruh anak saya mengumpulkan rapor di awal semester.

Hari berikutnya dia menyampaikan hal yang sama, bahwasanya rapor harus segera dikumpulkan. Saya lalu berpikir apa mungkin saya yang lupa, jangan-jangan memang rapor belum dikumpulkan dan masih ada di rumah. Segera saya cari rapor anak saya itu, dan saya tak menemukannya. Baru saya yakin kalau memang rapor itu memang sudah dikumpulkan setelah libur semester ganjil. Berikutnya, lagi-lagi si anak menyampaikan pesan dari sang guru kelas bahwa rapor tidak ada di sekolah.

Segera saya menuju sekolah untuk menanyakannya pada ibu guru kelas anak saya. Tahukah apa jawaban dan ekspresi wajahnya???? "Mana saya tahu??!  Dengan ekpresi wajah cuek seakan tak ikut bertanggung  jawab. Waktu itu anak saya juga berada dalam kelas bersama saya. Sang guru bilang bahwa rapor pernah dipinjam anak saya untuk keperluan MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) karena anak saya juga sekolah di sebuah madrasah saat sore hari. Saya pun heran dengan keterangan ibu guru itu, karena untuk apa MDA meminta rapor sekolah umum karena memang tidak ada hubungannya. Saya tanyakan juga pada anak saya waktu itu apakah benar dia pernah meminjam rapor untuk keperluan MDA, dengan terisak-isak dia mengatakan bahwa tidak pernah meminjam rapor untuk keperluan itu.

Raut muka ibu guru itu semakin terlihat  tidak ramah mendengar keterangan muridnya itu. Lalu dengan nada tinggi beliau berkata,"Ibu ingat kamu meminjamnya..!" Mendengar itu, anak saya semakin terlihat takut dan tertekan. Lalu saya bilang pada beliau, jika rapor diperlukan untuk MDA tidak mungkin saya tidak mengetahuinya. Dalam hati saya yakin rapor itu hilang atau terselip di sekolah. Karena menurut ibu guru itu rapor yang sudah dikumpulkan diletakkan di laci meja guru di kelas (bukan di dalam sebuah lemari di kantor guru). Sedangkan kelas juga dipakai oleh 2 kelas berbeda, kelas pagi dan kelas siang.

Penyelesaian tidak kunjung diberikan oleh sang guru saat itu. Yang ada berulang kali dia menyalahkan anak saya yang waktu itu umurnya baru 8 tahun. Saya juga agak naik darah dibuatnya, bukannya berusaha menyelesaikan masalah malah membuat tekanan mental pada anak-anak. Hingga akhirnya seorang guru lain mendengar debat kusir dalam ruangan kelas itu, dengan nada yang cukup bijak bapak guru itu bilang kepada saya bahwa rapor hilang bisa diganti dengan membayar Rp. 10.000,- sebagai pengganti buku rapor. Saya jadi berpikir, kenapa ibu guru kelas itu tidak memberikan solusi itu sejak awal??? Kenapa harus menekan mental anak-anak dulu??

Sejak peristiwa itu, anak saya seperti tertekan jika akan berangkat ke sekolah. Dia seperti mendapatkan intimidasi dari guru kelasnya, tapi untungnya hal itu tidak berlangsung lama karena beberapa bulan kemudian dia sudah naik ke kelas yang lebih tinggi dan berganti guru kelas.

Rapor SD tahun 1988
Rapor SMP th 2010


Yang saya pikirkan setelah kejadian itu, bagaimana mungkin di era teknologi informasi seperti saat ini, penulisan rapor dan penyimpanan arsipnya masih dilakukan secara manual?? Rapor masih ditulis dengan tangan sedangkan penghitungannya masih menggunakan kalkulator. Ini sistem yang sudah out of date kan? Bayangkan saja jika dalam satu kelas terdiri dari 30 - 40 siswa? Saya rasa cukup merepotkan. Bukannya sudah ada perangkat lunak yang memudahkan kita memasukkan data lalu menghitungnya secara otomatis, misalnya dengan Microsoft Excel?

Bagaimana jadinya jika seluruh rapor siswa hilang atau rusak karena terbakar? Atau sekolah tiba-tiba dilanda banjir namun belum sempat menyelamatkan rapor siswanya? Apakah seluruh siswa harus mengulang seperti yang terjadi pada Aldy?

***
Kondisi berbeda saya temukan di sekolah sang adik. Anak kedua memang saya sekolahkan di sebuah sekolah Islam swasta yang lokasinya tak jauh dari sekolah negeri kakaknya. Rapor tidak lagi berupa buku yang ditulis tangan namun sudah berupa tulisan komputer dan diprint. Lembaran-lembaran rapor tiap semesternya dimasukkan dalam sebuah file keeper. Jika hard copy itu hilang, maka tak perlu lagi guru menulisnya namun tinggal ngeprint dari soft copy yang disimpan di sekolah.

Rapor SD swasta th. 2009 (diketik komputer)


Coba bandingkan, mana yang lebih praktis dan efisien? Mungkin sebagian orang berpikir, bagaimana administrasi penulisan rapor ini diterapkan di sekolah-sekolah terpencil?? Apakah SDM atau guru-gurunya sudah menguasai teknologi dan memiliki perangkat yang canggih itu sedangkan bangunan sekolah saja tak terurus. Apakah sekolah-sekolah negeri di Indonesia masih primitif ya?

Itu adalah TUGAS PEMERINTAH, dan pemerintah TAK BOLEH LEPAS TANGAN pada masalah pendidikan anak-anak penerus bangsa ini. Kemajuan bangsa berawal dari kemajuan pendidikan, jadi kapan dong pendidikan anak-anak Indonesia bisa maju. Memiliki bangunan sekolah yang memadai dan sistem administrasi yang tak lagi manual...

Saya pun hanya berharap anak-anak Indonesia bisa menikmati pendidikan yang maju..... semoga...

* Sumber : Tulisan saya di Kompasiana

7/11/2012

"Andai Ikan Mas itu Ibuku.."



"Hayo jangan lupa sikat gigi.."

"Jangan lupa cuci kakinya sebelum tidur"

"Eh.. jangan ganggu adikmu ya.."

"Eittt... rambutnya disisir dong.."

"Handuknya jangan ditaruh di tempat tidur ya.. "

"Sepatu ditaruh tempatnya tuh.."

"Baju kotornya taruh di keranjang cucian jangan lupa..."

Lalu si anak bergumam sambil memandangi aquarium, "Andai saja ikan mas itu ibuku..."

Sampai sekarang kalau inget percakapan dalam cerita itu, bawaannya pengen ketawa. Koq ya gambarannya pas banget sama saya gitu loh.... bawel.. hehehehe...(ngaku). Sambil bertanya-tanya dalam hati, apa iya sih yang namanya ibu-ibu di seluruh dunia itu bawel? Lha wong percakapan di atas itu ada di buku bacaannya Faiz yang sekolahnya di sekolah Inggris. Mungkinkan ibu-ibu di Inggris itu juga sama bawelnya dengan saya..??

Nggak tau deh kalo ibu-ibu yang lain apakah sebawel ibu yang ada di bukunya Faiz atau malah nggak merasa bawel sama sekali. Rasanya kalau saya nggak bawel nih, rumah tuh bakalan berantakan deh. Anak-anak sekarang koq sepertinya beda banget sama jaman saya dulu, kalau nggak diperintah nggak jalan. Sikat gigi aja pake diingetin tiap hari. Koq ya sepertinya seneng banget dengerin suara merdu ibunya.... hehehe..

Saya inget banget jaman saya SD, ibu saya juga suka nyuruh saya beresin tempat tidur, habis makan piring, sendok dan gelasnya harus di cuci, keramas tiap 2 hari sekali, beresin buku kalau habis belajar, bersihkan rumah kalau sore, nyapu halaman... bla..bla... Tapi ngomongnya juga cukup sekali dua kali saja, setelah itu nggak perlu lagi diomongin otomatis dikerjakan tanpa di perintah. Soalnya nggak suka juga ibu tiap hari ngomelin saya jadi cukup sekali ngomong selanjutnya ya sadar diri kalau itu sudah jadi tugas kita.

Hmmm... rasanya juga saya nggak pengen jadi ibu yang bawel. Pengennya anteng aja kayak si ikan mas itu.

Atau saya bilang, "Ya udah, Ibu jadi ikan mas aja ya.."

Berguru pada Anak, Tak Selamanya Salah


"Kebo Nyusu Gudel" pernahkah anda mendengar pepatah Jawa ini? Belum pernah mendengar atau belum mengerti artinya sama sekali? Kebo Nyusu Gudel artinya kerbau yang menyusu pada anaknya (gudel=anak kerbau). Pepatah ini memiliki arti bahwasanya seseorang yang lebih tua kadangkala harus mau belajar atau berguru pada  orang muda bahkan anak kecil sekalipun.

Kebanyakan dari kita orang tua, merasa menjadi makhluk dewasa yang lebih tahu dari anak-anak yang umurnya notabene di bawah kita. Orang tua juga kadang merasa lebih banyak makan asam garam kehidupan atau memiliki pengalaman hidup lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak sehingga beranggapan ilmunya jauh lebih banyak dari anaknya. Seringkali anak-anak menjadi obyek sasaran pemaksaan sebuah kehendak orang tua. Anak-anak tidak diberi kesempatan untuk menolak dengan alasan-alasan yang sebenarnya masuk akal. Tapi karena orang tua memiliki ego yang besar untuk memaksakan pendapat dan kehendaknya pada anak-anak, maka alasan yang masuk akal pun tidak akan diterima jika datangnya dari anak-anak. Orang tua lebih "pintar" dari anak-anak, itu prinsipnya.

Mana ada sih orang tua yang tidak ingin anaknya sukses? Kalimat sakti ini yang kerapkali menjadi salah satu alasan mengapa para orang tua merasa berhak mengatur anak-anak. Maka tidak heran, lihat saja akhir-akhir ini, anak-anak seperti tidak berdaya mengikuti kemauan orang tua untuk ikut les ini itu demi sebuah "prestise" di mata orang tua yang lain. Juga menjadi obyek kemarahan orang tua jika mereka mendapatkan nilai rapor yang tidak sesuai dengan target. Menimpakan kesalahan sepenuhnya pada mereka karena tidak bisa masuk ke sekolah favorit pilihan orang tua. Bahkan sampai memilih jurusan di perguruan tinggi orang tua merasa harus ikut andil karena orang tua lebih tahu soal ini. Sebuah paradigma berpikir kaum tua yang sudah berlaku turun temurun.

Namun ternyata kedewasaan berpikir bukan dominasi kaum tua yang sudah kenyang dengan pengalaman hidup. Saya melihatnya sendiri bagaimana anak-anak kadang memiliki cara berpikir lebih dewasa dari kita yang dewasa. Sebuah komentar di dinding Facebook anak saya menyadarkan saya bahwa ternyata cara berpikirnya melampaui saya, ibunya. Pandangan soal nilai yang selama ini saya anggap sebagai satu-satunya indikator kesuksesan akademis.
Dia memang mendapatkan nilai tertinggi di kelas dan komentar ini merupakan jawaban dari sebuah ucapan selamat seorang temannya. (Saya copas dari FBnya)

 "Neng selamat yaaa nemnya tertinggi diantara kitaa ^^."  "Iya terima kasih:) Tapi yg penting, nilai itu kebutuhan pendidikan nomer 2^^ Nilai kan g dibawa smpe mati kan?? walaupun nilai itu dibutuhkan dimasa depan, tapi ILMU lah yg dibawa smpe mati dan dibawa ke masa depan;) jadiiii jangan kecewa cuma karena nilai, boleh kecewa tapi utk sekedar dijadiin penyemangat belajar=))"

Poinnya bahwa bukan nilai (angka) yang seharusnya kita tekankan. Bukankan mencari ilmu tidak sama dengan mencari angka? Angka bisa dimanipulasi dengan cara apapun misalnya dengan mencontek atau membeli kunci jawaban seperti dalam UN. Tapi jika ilmu yang kita kuasai, otomatis angka yang diperoleh akan menyesuaikan. Yang bermanfaat sesungguhnya adalah ilmu, bukan angka yang sempurna.

Ahh.... saya ternyata baru menyadari bahwa cara berpikir saya salah soal nilai. Saya terlanjur mengikuti paradigma kebanyakan orang tua. Ternyata saya memang tak lebih dewasa dari anak saya yang berumur 15 tahun. Namun sekarang saya pun harus mengakui kedewasaan berpikir bukan lagi terletak pada umur. Banyak orang dewasa yang berpikir kekanak-kanakan. Jadi apakah salah jika kita berguru pada anak-anak...??


*Sumber dari tulisan saya di Kompasiana

























7/06/2012

Telitilah Sebelum Membeli Produk Asuransi


asuransicerdas.com

Suatu malam (1/6)  selepas Isya' kami (saya dan suami) ngobrol berdua di ruang tengah. Biasalah, ngobrol ngalor ngidul kalau nggak ngomongin politik (padahal saya juga nggak ngerti hehehe...), cerita sejarah, ngomongin saham yang kebetulan beberapa bulan ini lagi anjlok (ini saya juga nggak ngerti), ngomongin tingkah laku anak-anak atau tingkat yang lebih serius ngomongin masa depan, terutama pendidikan anak-anak.

Tiba-tiba saya ingat, ini sudah masuk awal bulan  Juni lalu saya bertanya padanya,

"Mas, bayar asuransinya akhir bulan Mei apa akhir bulan Juni ya..?"

Kami memang mengikuti sebuah "merk" asuransi, dan tahun ini sudah masuk tahun ketiga. Tujuannya utamanya sih investasi alias menabung. Judul asuransinya adalah asuransi pendidikan. Preminya kami bayar setahun sekali dengan jumlah yang cukup besar, karena asuransi itu untuk 3 orang anak kami.

"Iya, awal bulan ini jatuh tempo bayar preminya, tapi sudah aku isi tabungannya untuk di debet.."
"Tapi aku nyesel ikut asuransi itu, potongannya itu banyak banget. Masa sih tiap bulan potongannya rata-rata Rp. 200.000, mendingan dimasukin reksadana. Karena sebenarnya tujuan utamaku itu bukan semata-mata beli asuransinya tapi lebih ke investasi dana."

Lalu saya nanya lagi, " Rp.200.000..??? Emang potongan apaan Mas?"

"Itu katanya untuk administrasi. Tapi herannya potongan administrasinya itu dihitung berdasarkan saldo, jadi kalau kita bayar premi yang tiap tahun itu potongannya jadi tambah banyak. Nah tiap bulan masih juga dipotong, nggak peduli unit link-nya terpuruk tetep aja dipotong."

"Emangnya nggak dijelasin sama agen asuransi soal potongan itu?" tanya saya.

"Nggak!! Dia cuma bilang katanya pada tahun ke-3 premi kita akan dapat bonus 10%, misalnya kita bayar 10 juta jadi 11 juta. Aku pikir lumayan juga nih.."

"Aku baru tahu soal potongan itu setelah dikirim rekening korannya."

"Uang yang sudah kita bayarkan itu memang sudah dipotong untuk bayar asuransinya di muka, prosentase pada tahun pertama 50:50 (50% asuransi dan 50% investasi), lalu tahun kedua 20:80 (20% asuransi dan 80% investasi),  tahun ketiga dan seterusnya investasi kita menjadi 110%, yang 10 % itu bonus"

"Mestinya kalau dilihat dari prosentase itu, tanpa hasil pengembangan sekalipun saldo investasi kita 65% dari yang sudah disetor (50%+80% /2 = 65%). Tapi kenyataannya saldonya tinggal 55%, gila nggak tuh potongannya??! Padahal tiap tahun nilai unit linknya sedikit naik dalam 2 tahun terakhir."

"Aku pikir potongannya itu flat, kalau ini tiap bulan nggak sama tergantung jumlah saldo. Jadi investasinya gak berkembang karena digerogoti sama yang namanya administrasi itu. Apalagi sekarang kan saham fluktuasinya lagi nggak bagus.."

"Kalau kita cairkan sekarang pasti kita yang rugi, jadi kita tunggu setelah 5 tahun aja meskipun itungannya belum balik modal, aku males ikut asuransi lagi!! Agennya nggak jujur, yang manis-manis aja dikasih tahunya, soalnya mereka keburu pengen produknya laku!"


Membeli sebuah produk asuransi saat ini sudah hampir menjadi kebutuhan. Biaya pendidikan yang makin hari makin tinggi membuat asuransi menjadi satu solusi untuk menginvestasikan dana. Lihat saja saat ini penawaran asuransi  sangat beragam jenis dan merknya.

Namun patut menjadi perhatian kita sebagai konsumen, seringkali agen asuransi hanya menawarkan dan memberikan penjelasan yang "menguntungkan" saja. Mereka tidak memberikan penjelasan yang detail terutama soal potongan administrasi yang "mencekik" seperti kasus yang terjadi pada kami. Jadi sebagai konsumen kami merasa dijebak, mau keluar rugi, mau diteruskan juga setengah hati.

Sepatutnya sebagai konsumen kita yang harus teliti dalam membeli sebuah produk asuransi, selain banyak bertanya, kita juga harus banyak mencari informasi agar tidak terjebak pada manisnya rayuan agen asuransi. Semoga pengalaman kami ini menjadi pelajaran bagi konsumen asuransi lainnya. Telitilah sebelum membeli.

Salam hangat... :)

7/03/2012

Anak Sekolah : Dulu dan Sekarang


sheknows.com



Membandingkan anak sekolah tahun 80-90 an seperti saya dengan anak sekolah jaman sekarang seperti anak saya rasanya seperti membandingkan bumi dengan langit. Ya iyalah... jamannya aja beda hehehe....  Jaman saya dulu mana ada sinetron remaja yang tayang setiap hari seperti sekarang. Wong stasiun televisinya dulu kan cuma TVRI.

Sinetron remaja yang saya ingat  ACI (Aku Cinta Indonesia), Rumah Masa Depan dan Kisah Serumpun Bambu, yang hanya tayang setiap minggu.  Sinetron ACI ceritanya hanya pada sekitar konflik remaja yang sederhana dengan penampilan tokohnya yang juga sederhana.  Ada penyelesaian di akhir cerita jika terjadi konflik, dan sudah jelas ada muatan pendidikan dan pesan moral kehidupan di sana. Bandingkan dengan cerita sinetron remaja sekarang, cerita yang diangkat kadang berlebihan dan cenuderung kurang mendidik seperti rebutan pacarlah, pamer mobil, persaingan antar kelompok teman dan penampilannya itu loh... glamour. Saya nggak bisa membayangkan kalau nggak ada aturan pakai seragam di sekolah, mungkin gaya berbusana anak-anak sekolah terutama remaja usia SMP dan SMU itu mengalahkan gaya busana anak kuliahan hehehe....

Jaman saya dulu mana ada alat komunikasi seperti handphone, sedangkan yang punya telepon rumah hanya orang-orang yang ekonominya menengah ke atas saja. Saya jadi ingat saat anak sulung saya kelas 5 SD di sebuah sekolah negeri di Pekanbaru, merajuk minta dibelikan handphone. Saya lihat beberapa temannya memang sudah dibekali handphone oleh orang tuanya. Tapi saya nggak serta merta   membelikannya, saya pikir belum cukup perlu untuk membekali handphone buat anak SD kelas 5, paling juga buat gaya aja hehehe... Saya bilang sama dia kalau mau dibelikan handphone nilai UANnya minimal 9. Akhirnya ketika dia bisa buktikan bahwa nilai UANnya rata-rata di atas 9 ya mau nggak mau dibelikan handphone sesuai janji. Paling tidak, ada usaha untuk mendapatkannya, lagipula saya rasa sudah cukup untuk dibekali handphone ketika di SMP karena sekolahnya memang jauh dari rumah. 

Sekarang saat si adik duduk di kelas 6 SD, biarpun nggak menuntut untuk dibelikan handphone tapi saya tetap membekalinya dengan handphone karena kami tinggal di negara orang saat ini, dan jarak antara rumah dan sekolahnya lumayan jauh. Ditambah lagi berangkat sekolah naik angkutan umum (subway) jadi saya rasa perlu untuk memberikan handphone untuknya dan handphone yang dibawanya hanya berfungsi untuk berkomunikasi asal bisa buat nelpon dan SMS.

Saya ingat betul waktu saya SMP sekitar tahun 1988, pernah nonton serial film yang saya lupa judulnya. Salah satu adegannya, si tokoh utama menulis semacam catatan hariannya di sebuah PC. Waktu itu saya dibuat takjub dan berpikir enaknya ya tulisannya bisa di simpan di layar monitor dan bisa di sisipi kata-kata tanpa harus menghapus tulisan di depan atau di belakangnya, canggih banget. Sampai mikir kapan ya bisa punya alat kayak begitu. Saya kenal dan memakai komputer saat saya SMU sekitar tahun 90-an karena jadi kurikulum wajib di sekolah. Softwarenya masih pakai Word Star. Ya ampuuunnnn... jadul amat ya?? hehehehe..  Kalau sekarang, jangankan anak SMP.. anak play group pun sudah mahir menggunakan PC, laptop atau komputer tablet.

Ngomongin internet, jelas jauh bedanya sama jaman saya dulu. Cari informasi apapun cukup mengetikkan kata kunci di mesin pencari. Apapun bisa di lihat lewat yang namanya internet. Makanya warung internet tumbuh bak jamur sekarang. Tugas-tugas sekolah nggak jamannya lagi menggunting-gunting majalah dan koran untuk dijadikan klipping, tinggal cari di internet terus di print. Dunia seakan digenggaman tangan karena lewat hand phone internet juga bisa di akses. Ngrumpi dengan teman-teman sekolah, ngomongin tugas sekolah, nggak perlu harus berkumpul di tempat yang sama. Sambil tiduran mereka bisa ngrumpi dan diskusi di facebook atau di twitter.

Soal hobi tulis menulis, dulu untuk membuat tulisan yang ingin dimuat di sebuah media, harus dikonsep lalu diketik untuk kemudian dikirimkan ke media koran atau majalah. Sarana menyalurkan hobi menulis paling sederhana adalah majalah dinding sekolah. Kalau di muat dan dibaca temen satu sekolah rasanya seneng banget. Sekarang, saya cukup iri dengan anak-anak sekolah yang punya hobi menulis. Banyak tempat untuk menyalurkan hobinya itu, bisa di blog pribadi atau nulis di blog seperti kompasiana. Yaa... kemajuan teknologi memiliki banyak dampak positif untuk anak-anak sekolah, walau nggak mengabaikan dampak negatifnya juga.

Kemajuan jaman memang membawa konsekuensi positif dan negatif. Peran kita orang tua menjadi filter buat anak-anak untuk menyaring hal yang  negatif menjadi sangat penting.  Orang tua juga perlu tahu banyak soal teknologi biar nggak ketinggalan dengan anak-anak sehingga nggak kecolongan. Orang tua juga butuh belajar juga soal ini, kalau nggak tau bertanya pada anak bukan hal yang bisa membuat kita nggak berwibawa di mata anak kan??  (EL)

Mantra Sakti Bernama Sugesti




Kata sugesti sering kita dengar saat seseorang di hipnotis di sebuah acara televisi, "Sugesti diri anda, katakan jika ingin anda katakan, dan jangan katakan jika anda tidak ingin mengatakannya."  Lha koq saya jadi hafal gini ya? hehehe...

Menurut Mas Wiki, sugesti adalah kata serapan dari bahasa Inggris suggestion yang berarti suatu proses psikologis dimana seseorang membimbing pikiran, perasaan atau prilaku orang lain. Dari sini bisa kita menarik benang merah tentang adanya hubungan sugesti dengan hipnotis atau hypnosis. Hypnosis sendiri berasal dari kata "hypnos"  yang merupakan nama dewa tidur dalam mitologi Yunani. Tapi kondisi hypnotis tidak sama dengan tidur karena orang yang sedang tidur tidak menyadari dan tidak mendengar suara-suara di sekitarnya.  

Sedangkan orang yang sedang dalam keadaan  hyposis masih dapat mendengar dan merespon informasi yang diberikan kepadanya. Jelas bahwa sugesti erat hubungannya dengan hipnotis.
Tentu saja saya tidak akan membahas soal hipnotis di sini, tapi membahas tentang kesaktian sebuah mantra bernama sugesti. Kalau hipnotis itu orang lain yang memberikan sugesti kepada kita. Pertanyaannya, apakah sugesti hanya bisa diberikan orang lain untuk kita? Bisakah kita mensugesti diri kita sendiri dalam keadaan tertentu?

Pengalaman soal saktinya mantra bernama sugesti memang saya rasakan. Seperti saat saya belajar nyetir mobil, sebelumnya saya benar-benar nol soal penguasaan mengendarai kendaraan roda empat ini. Lha wong nggak punya mobil hehehe... Sekalinya beli mobil, hanya bisa memandangi dan duduk manis di dalamnya. Padahal waktu itu mobil nggak dipakai suami ke kantor, jadi nganggur deh di rumah. Tapi saya orangnya agak sedikit nekat, jadi saya bilang pada diri sendiri, " Orang lain bisa masa sih saya nggak bisa."

Berbekal ijin suami serta memintanya untuk menjadi instruktur,  mulailah saya belajar mengendarai kendaraan roda empat yang awalnya hanya bisa saya pandangi. Satu jam sehari selama seminggu saya belajar nyetir bersama instruktur pribadi saya itu sampai akhirnya saya bisa. Suatu ketika saya terpaksa harus bawa mobil dan turun ke jalan sendiri (tanpa pendamping) tentu saja saya agak sedikit grogi dan ragu melakukan hal itu (lha baru seminggu belajarnya). Apa yang dikatakan suami pada saya, "Masa sih gitu takut, kamu kan udah bisa.." Sudah dibilangin begitu, gengsi dong saya kalau nggak bisa menerima tantangannya... hehehe.... 
Karena sudah ada modal sulutan tadi, mau tidak mau saya juga sugesti diri saya sendiri bahwa memang saya mampu untuk menaklukkan tantangan ini. Dan nyatanya memang saya bisa dan berteriak, Yes!! I can..  Kalau ini sih kelebihan energi, pake teriak-teriak segala hehehe.....

Hal yang lain yaitu saat saya terpaksa harus berjauhan dengan suami, ditinggal bertugas berbulan-bulan atau ditinggal training keluar negeri berminggu-minggu. Saya yang waktu itu tinggal perantauan yang notabene jauh dari orang tua dan keluarga besar tentu agak sedikit galau saat pertama kali jauh dari belahan jiwa saya itu (cieeee...).  Apa saja harus saya kerjakan sendiri dari mulai urusan dapur, ngurus kebutuhan anak-anak, mendampingi mereka belajar sampai hal-hal yang berurusan dengan urusan laki-laki seperti memperbaiki pompa yang rusak, soal kelistrikan dan sebagainya. Seperti biasa kalau ada masalah, saya katakan pada diri saya bahwa saya itu BISA. Ada semacam tekad dalam diri bahwa pantang meminta bantuan orang lain sebelum saya mencobanya sendiri.

Itu juga yang terjadi ketika saya harus meyiapkan segala sesuatu untuk pindah dari Pekanbaru (Riau) ke Kairo (Mesir). Saya lakukan semuanya sendiri karena kebetulan suami tidak bisa menjemput saya dan anak-anak ke Pekanbaru.  Dari mulai urusan surat pindah sekolah anak-anak sampai urusan packing dan pergi ke Kairo sendiri untuk pertama kalinya bersama 3 orang anak plus barang-barang pindahan. Sempat merasa keteteran dan sedikit pesimis. Teman-teman, tetangga, saudara juga orang tua sempat meragukan kemampuan saya melewati ini semua dengan mulus tapi kata-kata SAYA BISA rupanya menjadi mantra sakti dan sugesti efektif yang membuat saya menjalaninya walaupun dengan sedikit kendala tanpa mengeluh.

Sakit pun ternyata bisa sembuh dengan sugesti. Eitttsss!! bukan berarti tidak perlu dokter loh. Kalau kita sakit lalu kita mengeluh rasanya badan kita yang sakit juga akan bertambah sakit. Coba kalau kita sugesti bahwa kita bisa sembuh, pasti pengobatan akan jadi efektif. Jadi sepertinya, sugesti adalah semacam suntikan untuk psikologis atau jiwa manusia. Dan ini salah satu menghindarkan kita dari yang namanya stress.

Menanamkan sugesti positif seperti ini ternyata menimbulkan energi yang luar biasa pada tubuh kita.  Bukan saja sugesti dari orang lain tapi yang paling penting adalah sugesti dari dalam diri kita sendiri. Sugesti positif erat hubungannya dengan optimis dan positif thinking atau dalam bahasa Al-Qur'an disebut husnudzan. 

Berpikir positif, sugesti positif dan optimis terkait erat dengan kesehatan jiwa karena dapat mengubah keburukan menjadi sesuatu yang baik. Anak-anak juga harus diajarkan sugesti positif  ini sejak dini, jangan biarkan mereka jadi anak manja, tidak yakin pada kemampuan serta selalu tergantung pada orang lain.
Jadi tunggu apa lagi....  hindari mengeluh dan sugesti diri anda dengan kata-kata positif. (EL)

7/01/2012

Tempat Curhat Remaja Itu Bernama Twitter



Jaman sekarang, kalau nggak punya akun twitter rasanya koq rada aneh ya? Nggak gaul katanya.. Sampai-sampai tokoh-tokoh sekelas menteri merasa wajib punya akun twitter. Saya juga punya, tapi nggak punya follower, kacian deh ya... hehehe. Kalau facebook juga punya  walaupun teman saya nggak sampai 500-an. Bukannya ikut-ikutan tren, tapi lebih pada kewajiban sebagai orang tua yang kebetulan memiliki anak remaja. Nyambung nggak sih?

Awalnya saya nggak ngerti twitter itu apa, tapi setelah cari-cari kesana kemari akhirnya saya temukan juga. Abis rasanya nggak afdol kalau punya twitter (walaupun nggak punya follower) tapi nggak ngerti maksudnya hehehe... Twitter itu layanan sosial networking yang kategorinya microblogging alias ngeblog tapi cuma 1 paragraf yang maksimal 140 huruf. Kalau diibaratkan facebook itu sepak bola, nah twitter ini futsal. Kalau blogging itu membuat rumah, maka microblogging itu kandang ayam. Berbeda dengan facebook yang murni jejaring sosial, twitter ini adalah jejaring informasi. Nah... saya udah paham sekarang.

Beberapa tahun lalu facebook mungkin lebih populer dibandingkan twitter, facebook itu kan kakaknya twitter. Facebook lahir tahun 2004 dan twitter 2 tahun setelahnya. Walaupun sampai saat ini facebook populer tapi nampaknya twitter tak kalah boomingnya. Dan, sekarang saya jadi ngerti kenapa si kakak jarang aktif lagi di facebook, ternyata dia lebih sering ngobrol-ngobrol alias ngerumpi sama temennya di twitter.

Punya anak remaja usia belasan tahun memang agak repot. Mungkin ini juga yang dirasakan orangtua saya dulu ya? Remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Katanya sih, masa remaja itu adalah masa yang penuh permasalahan, masa terjadinya krisis identitas dan pencarian jati diri, ingin diakui eksistensi dirinya, suka memberontak, suka bereksperimen, senang berekplorasi, memiliki banyak khayalan, mimpi dan sejenisnya serta emosinya yang kerap tidak stabil. Mungkin saya dulu juga begitu, cuma suka nggak ngerasa aja. Ngerasanya suka nggak cocok sama ayah, jadi suka berontak gitu hehehe...

Secara umum karakteristik masa remaja saya dengan anak saya sekarang ini tidak jauh berbeda. Karena memang begitulah tahap perkembangan psikologisnya, seperti yang saya baca di artikel-artikel dan buku-buku tentang remaja. Tapi ada beberapa hal yang perbedaannya sangat signifikan, diantaranya cara mengungkapkan isi hati. Jaman saya dulu kalau lagi nggak enak hati atau galau istilah sekarang, saya lebih suka nulis di buku harian. Apa saja saya tulis di buku itu, terutama kalau nggak ada teman yang nyaman untuk diajak ngomong.

Lain dulu lain sekarang, twitter yang awalnya sebuah microblogging yang bertujuan sharing informasi saat ini sudah bergeser fungsi terutama di kalangan remaja sebagai diary tempat curhat.  Apa aja diomongin di twitter, hal nggak penting sekalipun. Dulu jaman saya remaja curhatnya di buku, remaja sekarang curhat di  twitter. Dulu kalau ada masalah berusaha orang lain nggak tahu, sekarang malah kalau bisa semua orang tahu. Mungkin ini ya yang namanya menunjukkan eksistensi diri atau mencari perhatian orang lain.
Makanya saya berpikir cukup penting untuk orang tua terutama yang memiliki anak remaja memiliki akun twitter sebagai sarana untuk mengawasi dan menjembatani komunikasi dengan mereka yang kadang kurang lancar. Dengan twitter saya jadi tahu dia tidak suka dengan perlakuan saya padanya, saya juga tahu kalau ternyata kata-kata saya membuatnya tersinggung, dan banyak lagi curahan hati yang mungkin tidak dia ungkapkan pada saya terungkap di twitter. Itu terjadi bukan hanya pada anak saya saja, keponakan, sepupu dan adik saya yang berusia remaja juga suka curhatnya di twitter. Hhhmmm... twitter memang sepertinya sudah menjadi tempat berkeluh kesah yang nyaman buat mereka.

Memahami remaja bukanlah hal yang mudah tapi kita dapat mempelajarinya dengan memahami tahap perkembangan psikologis mereka. Membangun komunikasi yang baik adalah salah satu cara untuk tidak membiarkan mereka menjadikan hanya twitter teman curhatnya. Dan untuk mengerti mereka kita sebagai orang tua juga harus "nyemplung" di dunia mereka, dunia twitter  hehehe...

Bermimpi?? Jangan Takut...


girlguiding.org.uk


Mimpi umumnya diartikan sebagai bunga tidur. Semua orang tentu pernah mengalami  mimpi dalam tidurnya, entah itu mimpi indah ataupun mimpi buruk. Definisi mimpi dalam kamus bahasa Indonesia adalah sesuatu yang terlihat dan dialami dalam tidur.

Dalam beberapa teori psikologi, mimpi diartikan sebagai penghubung antara kondisi bangun dan tidur yang bisa jadi merupakan ekspresi yang terdistorsi atau keinginan yang tidak terungkap saat terjaga. Suatu saat suami saya bercerita bahwa beberapa kali dia bermimpi tubuhnya melayang, lalu apakah ini adalah keinginannya yang tidak terungkap? Atau ini hanya imajinasinya saja? Saya juga tidak paham tentang ini.

Mimpi dalam kamus bahasa Indonesia juga bisa diartikan sebagai angan-angan. Ada pepatah bijak yang mengatakan "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu". Dan saya pribadi menganggap bahwa mimpi itu adalah sebuah do'a yang terucap dengan lisan ataupun hanya dalam hati. Beberapa kali saya membuktikan bahwa mimpi itu adalah sebuah do'a. Seolah Tuhan mencatat mimpi kita lalu mewujudkannya suatu saat.

Mungkin tak terbayang di benak saya yang menghabiskan masa kecil di sebuah desa di ujung timur pulau Jawa bisa melintasi beberapa negara bahkan tinggal di negeri orang seperti sekarang. Namun saya masih bisa mengingat, saya pernah berangan-angan bisa naik pesawat, karena seringkali saya melihat pesawat melintas di atas langit desa. Lalu ingin pergi ke Jakarta karena melihat tayangan tentang ibukota negara itu di televisi adalah kota yang mengagumkan dengan gedung-gedung tinggi yang tentu saja tidak pernah saya lihat di desa tempat saya tinggal.

Dan entah kenapa waktu saya kecil dulu begitu ingin melihat pulau Sumatera bahkan sampai sekarang saya tak pernah menemukan alasannya. Pergi ke luar negeri? Sebuah mimpi yang mungkin terdengar mengada-ada jika saya utarakan pada kedua orang tua saya dulu. Rasanya untuk anak kecil yang tinggal di desa, mimpi itu terlalu tinggi saat itu. Atau bahkan mimpi saya terlalu  "ndeso" buat sebagian orang. Tapi namanya saja angan-angan, setiap orang bebas berangan-angan kan?

Angan-angan tinggi yang rasanya tak terjangkau kemudian menjadi kenyataan. Wah! Rasanya saya pun menjadi saksi keajaiban mimpi itu. Satu persatu mimpi masa kecil saya seolah dihamparkan di depan mata. Mulai dari melihat Jakarta, naik pesawat, pergi ke Sumatera dan pergi ke luar negeri. Bahkan Jakarta, naik pesawat, Sumatera lebih dari yang saya impikan. Melihat Jakarta beberapa kali, naik pesawat mungkin hampir tak terhitung bahkan Sumatera saya pernah tinggal di pulau itu selama hampir 10 tahun. Lalu pergi ke luar negeri juga lebih dari yang saya impikan. Mimpi yang dulu sepertinya tidak mungkin menjadi nyata tanpa saya duga.

Mesir, juga bagian dari mimpi saya walaupun bukan mimpi masa kecil. Mimpi yang tiba-tiba saja muncul saat saya membaca sebuah buku sejarah. Yang terpikir dalam benak saya saat itu, betapa menariknya Mesir dimana sejarah dunia banyak berawal dari sana. Bangunan-bangunan tua, tempat-tempat bersejarah Islam membuat Mesir ada di dalam daftar mimpi saya. Dua novel kang Abiek yang berlatar belakang Mesir membuat mimpi saya kian menggebu ingin melihat negeri itu. Dan saya sungguh tak menduga ketika suami ditugaskan di Kairo dari perusahaan tempatnya bekerja. Subhanallah... satu lagi mimpi saya yang jadi kenyataan.

Dan kini, saya tak lagi ragu untuk bermimpi. Karena saya yakin mimpi, angan-angan dan cita-cita itu adalah do'a. Lalu ketika anak saya mengatakan pada saya, bahwa kalau besar ingin sekolah ke Inggris. Saya yakinkan padanya, sangat boleh. Dan anak satu lagi berkata bahwa dia ingin ke Perancis. Ohhh.. why not?? Saya katakan padanya, "Suatu saat mimpimu itu bisa terwujud, entah dengan cara apa Tuhan pasti mewujudkannya nanti. " Saya pikir itu juga semacam motivasi untuk mereka, motivasi untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka dengan usaha keras dalam belajar. Karena mimpi saja belum cukup tanpa usaha.


Jadi jangan pernah takut untuk bermimpi dan jangan pernah remehkan mimpi karena mimpi adalah do'a.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India