7/14/2012

Sekolah Indonesia (Masih) Primitif..?


Berita tentang hilangnya rapor seorang siswa kelas 4 saat akan naik ke kelas 5 di sebuah sekolah dasar di Gowa, Sulawesi Selatan mengingatkan saya pada peristiwa yang sama beberapa tahun yang lalu.  Walaupun peristiwa yang menimpa anak saya itu tidak sampai menyebabkan dia harus mengulang kelas seperti halnya Aldy namun cukup membuat tekanan psikologis pada anak saya lantaran takut jika bertemu gurunya itu.

Peristiwa hilangnya rapor terjadi pada semester genap kelas 3 sekolah dasar di sebuah sekolah negeri di Pekanbaru, Riau. Waktu itu sepulang sekolah, anak saya menyampaikan pesan dari gurunya bahwa rapor harus segera dikumpulkan karena satu bulan lagi ujian akhir semester sudah dimulai. Lalu saya bilang padanya, bukannya rapor sudah dikumpulkan waktu masuk semester genap yang lalu. Karena memang sudah menjadi kebiasaan saya menyuruh anak saya mengumpulkan rapor di awal semester.

Hari berikutnya dia menyampaikan hal yang sama, bahwasanya rapor harus segera dikumpulkan. Saya lalu berpikir apa mungkin saya yang lupa, jangan-jangan memang rapor belum dikumpulkan dan masih ada di rumah. Segera saya cari rapor anak saya itu, dan saya tak menemukannya. Baru saya yakin kalau memang rapor itu memang sudah dikumpulkan setelah libur semester ganjil. Berikutnya, lagi-lagi si anak menyampaikan pesan dari sang guru kelas bahwa rapor tidak ada di sekolah.

Segera saya menuju sekolah untuk menanyakannya pada ibu guru kelas anak saya. Tahukah apa jawaban dan ekspresi wajahnya???? "Mana saya tahu??!  Dengan ekpresi wajah cuek seakan tak ikut bertanggung  jawab. Waktu itu anak saya juga berada dalam kelas bersama saya. Sang guru bilang bahwa rapor pernah dipinjam anak saya untuk keperluan MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) karena anak saya juga sekolah di sebuah madrasah saat sore hari. Saya pun heran dengan keterangan ibu guru itu, karena untuk apa MDA meminta rapor sekolah umum karena memang tidak ada hubungannya. Saya tanyakan juga pada anak saya waktu itu apakah benar dia pernah meminjam rapor untuk keperluan MDA, dengan terisak-isak dia mengatakan bahwa tidak pernah meminjam rapor untuk keperluan itu.

Raut muka ibu guru itu semakin terlihat  tidak ramah mendengar keterangan muridnya itu. Lalu dengan nada tinggi beliau berkata,"Ibu ingat kamu meminjamnya..!" Mendengar itu, anak saya semakin terlihat takut dan tertekan. Lalu saya bilang pada beliau, jika rapor diperlukan untuk MDA tidak mungkin saya tidak mengetahuinya. Dalam hati saya yakin rapor itu hilang atau terselip di sekolah. Karena menurut ibu guru itu rapor yang sudah dikumpulkan diletakkan di laci meja guru di kelas (bukan di dalam sebuah lemari di kantor guru). Sedangkan kelas juga dipakai oleh 2 kelas berbeda, kelas pagi dan kelas siang.

Penyelesaian tidak kunjung diberikan oleh sang guru saat itu. Yang ada berulang kali dia menyalahkan anak saya yang waktu itu umurnya baru 8 tahun. Saya juga agak naik darah dibuatnya, bukannya berusaha menyelesaikan masalah malah membuat tekanan mental pada anak-anak. Hingga akhirnya seorang guru lain mendengar debat kusir dalam ruangan kelas itu, dengan nada yang cukup bijak bapak guru itu bilang kepada saya bahwa rapor hilang bisa diganti dengan membayar Rp. 10.000,- sebagai pengganti buku rapor. Saya jadi berpikir, kenapa ibu guru kelas itu tidak memberikan solusi itu sejak awal??? Kenapa harus menekan mental anak-anak dulu??

Sejak peristiwa itu, anak saya seperti tertekan jika akan berangkat ke sekolah. Dia seperti mendapatkan intimidasi dari guru kelasnya, tapi untungnya hal itu tidak berlangsung lama karena beberapa bulan kemudian dia sudah naik ke kelas yang lebih tinggi dan berganti guru kelas.

Rapor SD tahun 1988
Rapor SMP th 2010


Yang saya pikirkan setelah kejadian itu, bagaimana mungkin di era teknologi informasi seperti saat ini, penulisan rapor dan penyimpanan arsipnya masih dilakukan secara manual?? Rapor masih ditulis dengan tangan sedangkan penghitungannya masih menggunakan kalkulator. Ini sistem yang sudah out of date kan? Bayangkan saja jika dalam satu kelas terdiri dari 30 - 40 siswa? Saya rasa cukup merepotkan. Bukannya sudah ada perangkat lunak yang memudahkan kita memasukkan data lalu menghitungnya secara otomatis, misalnya dengan Microsoft Excel?

Bagaimana jadinya jika seluruh rapor siswa hilang atau rusak karena terbakar? Atau sekolah tiba-tiba dilanda banjir namun belum sempat menyelamatkan rapor siswanya? Apakah seluruh siswa harus mengulang seperti yang terjadi pada Aldy?

***
Kondisi berbeda saya temukan di sekolah sang adik. Anak kedua memang saya sekolahkan di sebuah sekolah Islam swasta yang lokasinya tak jauh dari sekolah negeri kakaknya. Rapor tidak lagi berupa buku yang ditulis tangan namun sudah berupa tulisan komputer dan diprint. Lembaran-lembaran rapor tiap semesternya dimasukkan dalam sebuah file keeper. Jika hard copy itu hilang, maka tak perlu lagi guru menulisnya namun tinggal ngeprint dari soft copy yang disimpan di sekolah.

Rapor SD swasta th. 2009 (diketik komputer)


Coba bandingkan, mana yang lebih praktis dan efisien? Mungkin sebagian orang berpikir, bagaimana administrasi penulisan rapor ini diterapkan di sekolah-sekolah terpencil?? Apakah SDM atau guru-gurunya sudah menguasai teknologi dan memiliki perangkat yang canggih itu sedangkan bangunan sekolah saja tak terurus. Apakah sekolah-sekolah negeri di Indonesia masih primitif ya?

Itu adalah TUGAS PEMERINTAH, dan pemerintah TAK BOLEH LEPAS TANGAN pada masalah pendidikan anak-anak penerus bangsa ini. Kemajuan bangsa berawal dari kemajuan pendidikan, jadi kapan dong pendidikan anak-anak Indonesia bisa maju. Memiliki bangunan sekolah yang memadai dan sistem administrasi yang tak lagi manual...

Saya pun hanya berharap anak-anak Indonesia bisa menikmati pendidikan yang maju..... semoga...

* Sumber : Tulisan saya di Kompasiana

7/11/2012

"Bagaimana Sperma Bisa Bertemu Sel Telur, Bu..??"


Image by google


Dulu waktu saya berusia sekitar 12 tahun, bertanya tentang bagaimana proses lahirnya bayi dari rahim seorang wanita, atau bagaimana caranya koq bisa jadi bayi, bagaimana caranya sperma seorang pria bertemu sel telur wanita.. pada ibu atau bapak saya rasanya koq tabu ya?? Dan saya teramat yakin kalau jawaban mereka pasti "kamu akan mengetahuinya nanti setelah dewasa". Itu jawaban yang praktis... hehe

Tapi seiring perkembangan informasi saat ini sepertinya anak-anak semakin terbuka. Pertanyaan-pertanyaan diluar dugaan saya membuat saya terkejut dan tersenyum. Rasa ingin tahu mereka yang besar karena pengaruh tayangan TV, internet dan media yang semakin variatif semakin membuat orang tua sekarang harus semakin kreatif dan rajin membaca untuk menjawab keingintahuan anak-anak. Sebenarnya memberikan sex edukasi pada anak-anak tidak susah tapi juga sangat tidak mudah.

Ini pengalaman saya...

Jauh sebelum mereka bertanya tentang proses terbentuknya seorang manusia dalam rahim seorang wanita, saya sudah membelikan mereka buku tentang PUBER PADA REMAJA Cewek dan Cowok (terbitan Erlangga). Karena anak-anak saya waktu itu sudah berusia 8 dan 11 tahun. Yaa... paling tidak mereka tahu bagaimana bentuk alat kelaminnya jika sudah beranjak dewasa, apa tanda-tanda kalau dia puber dll. Dari buku itu dia juga tahu bahwa janin terbentuk dari bertemunya sperma laki-laki dengan sel telur perempuan yang ada dalam rahim. Tapi bagaimana caranya, tidak ada penjelasan.

Maka, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang muncul dan mempertanyakannya pada saya ibunya.. Kebetulan yang  bertanya anak yang berusia 10 tahun kelas 5 SD.
Anak   : Bu, adek bayi itu asalnya dari bertemunya sperma laki-laki dan sel telur perempuan kan??
Ibu      : Iya..
Anak   : Gimana ketemunya ya bu..? Apa seperti bunga? Terbang-terbang di udara?
Ibu      : Hmmm... (mulai bingung memilih kata-kata). Kamu kan tahu bagaimana bentuk alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan?
Anak   : (Dia mulai manganalisa sendiri..) Jadi ketemunya...??? mmmm... dimasukkan???
Ibu      : Ya, kamu sudah punya jawabannya kan?
Anak  : Hiiiii......... koq gitu ya?? Jadi aku hasil dari....???
(Sebenarnya saya ingin tertawa melihat reaksinya itu, tapi saya berusaha menahannya)
Ibu     : Iya..  itulah tujuan dari pernikahan. Menikah dulu baru bisa punya anak. Dan kamu lahir itu karena kasih sayang Bapak dan Ibu, nak.

Itu sebagian percakapan saya dengan anak perempuan saya. Mungkin antara anak yang satu dengan yang lain berbeda cara mengungkapkan pertanyaan tentang sex pada orang tuanya. Ada yang malu-malu ada juga yang to the point. Intinya bagaimana kita menjelaskannya dengan bahasa yang dimengerti anak-anak sesuai usianya.

Dan bersiap-siaplah anda sebagai orang tua menerima pertanyaan-pertanyaan tak terduga dari anak-anak anda..

"Andai Ikan Mas itu Ibuku.."



"Hayo jangan lupa sikat gigi.."

"Jangan lupa cuci kakinya sebelum tidur"

"Eh.. jangan ganggu adikmu ya.."

"Eittt... rambutnya disisir dong.."

"Handuknya jangan ditaruh di tempat tidur ya.. "

"Sepatu ditaruh tempatnya tuh.."

"Baju kotornya taruh di keranjang cucian jangan lupa..."

Lalu si anak bergumam sambil memandangi aquarium, "Andai saja ikan mas itu ibuku..."

Sampai sekarang kalau inget percakapan dalam cerita itu, bawaannya pengen ketawa. Koq ya gambarannya pas banget sama saya gitu loh.... bawel.. hehehehe...(ngaku). Sambil bertanya-tanya dalam hati, apa iya sih yang namanya ibu-ibu di seluruh dunia itu bawel? Lha wong percakapan di atas itu ada di buku bacaannya Faiz yang sekolahnya di sekolah Inggris. Mungkinkan ibu-ibu di Inggris itu juga sama bawelnya dengan saya..??

Nggak tau deh kalo ibu-ibu yang lain apakah sebawel ibu yang ada di bukunya Faiz atau malah nggak merasa bawel sama sekali. Rasanya kalau saya nggak bawel nih, rumah tuh bakalan berantakan deh. Anak-anak sekarang koq sepertinya beda banget sama jaman saya dulu, kalau nggak diperintah nggak jalan. Sikat gigi aja pake diingetin tiap hari. Koq ya sepertinya seneng banget dengerin suara merdu ibunya.... hehehe..

Saya inget banget jaman saya SD, ibu saya juga suka nyuruh saya beresin tempat tidur, habis makan piring, sendok dan gelasnya harus di cuci, keramas tiap 2 hari sekali, beresin buku kalau habis belajar, bersihkan rumah kalau sore, nyapu halaman... bla..bla... Tapi ngomongnya juga cukup sekali dua kali saja, setelah itu nggak perlu lagi diomongin otomatis dikerjakan tanpa di perintah. Soalnya nggak suka juga ibu tiap hari ngomelin saya jadi cukup sekali ngomong selanjutnya ya sadar diri kalau itu sudah jadi tugas kita.

Hmmm... rasanya juga saya nggak pengen jadi ibu yang bawel. Pengennya anteng aja kayak si ikan mas itu.

Atau saya bilang, "Ya udah, Ibu jadi ikan mas aja ya.."

Berguru pada Anak, Tak Selamanya Salah


"Kebo Nyusu Gudel" pernahkah anda mendengar pepatah Jawa ini? Belum pernah mendengar atau belum mengerti artinya sama sekali? Kebo Nyusu Gudel artinya kerbau yang menyusu pada anaknya (gudel=anak kerbau). Pepatah ini memiliki arti bahwasanya seseorang yang lebih tua kadangkala harus mau belajar atau berguru pada  orang muda bahkan anak kecil sekalipun.

Kebanyakan dari kita orang tua, merasa menjadi makhluk dewasa yang lebih tahu dari anak-anak yang umurnya notabene di bawah kita. Orang tua juga kadang merasa lebih banyak makan asam garam kehidupan atau memiliki pengalaman hidup lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak sehingga beranggapan ilmunya jauh lebih banyak dari anaknya. Seringkali anak-anak menjadi obyek sasaran pemaksaan sebuah kehendak orang tua. Anak-anak tidak diberi kesempatan untuk menolak dengan alasan-alasan yang sebenarnya masuk akal. Tapi karena orang tua memiliki ego yang besar untuk memaksakan pendapat dan kehendaknya pada anak-anak, maka alasan yang masuk akal pun tidak akan diterima jika datangnya dari anak-anak. Orang tua lebih "pintar" dari anak-anak, itu prinsipnya.

Mana ada sih orang tua yang tidak ingin anaknya sukses? Kalimat sakti ini yang kerapkali menjadi salah satu alasan mengapa para orang tua merasa berhak mengatur anak-anak. Maka tidak heran, lihat saja akhir-akhir ini, anak-anak seperti tidak berdaya mengikuti kemauan orang tua untuk ikut les ini itu demi sebuah "prestise" di mata orang tua yang lain. Juga menjadi obyek kemarahan orang tua jika mereka mendapatkan nilai rapor yang tidak sesuai dengan target. Menimpakan kesalahan sepenuhnya pada mereka karena tidak bisa masuk ke sekolah favorit pilihan orang tua. Bahkan sampai memilih jurusan di perguruan tinggi orang tua merasa harus ikut andil karena orang tua lebih tahu soal ini. Sebuah paradigma berpikir kaum tua yang sudah berlaku turun temurun.

Namun ternyata kedewasaan berpikir bukan dominasi kaum tua yang sudah kenyang dengan pengalaman hidup. Saya melihatnya sendiri bagaimana anak-anak kadang memiliki cara berpikir lebih dewasa dari kita yang dewasa. Sebuah komentar di dinding Facebook anak saya menyadarkan saya bahwa ternyata cara berpikirnya melampaui saya, ibunya. Pandangan soal nilai yang selama ini saya anggap sebagai satu-satunya indikator kesuksesan akademis.
Dia memang mendapatkan nilai tertinggi di kelas dan komentar ini merupakan jawaban dari sebuah ucapan selamat seorang temannya. (Saya copas dari FBnya)

 "Neng selamat yaaa nemnya tertinggi diantara kitaa ^^."  "Iya terima kasih:) Tapi yg penting, nilai itu kebutuhan pendidikan nomer 2^^ Nilai kan g dibawa smpe mati kan?? walaupun nilai itu dibutuhkan dimasa depan, tapi ILMU lah yg dibawa smpe mati dan dibawa ke masa depan;) jadiiii jangan kecewa cuma karena nilai, boleh kecewa tapi utk sekedar dijadiin penyemangat belajar=))"

Poinnya bahwa bukan nilai (angka) yang seharusnya kita tekankan. Bukankan mencari ilmu tidak sama dengan mencari angka? Angka bisa dimanipulasi dengan cara apapun misalnya dengan mencontek atau membeli kunci jawaban seperti dalam UN. Tapi jika ilmu yang kita kuasai, otomatis angka yang diperoleh akan menyesuaikan. Yang bermanfaat sesungguhnya adalah ilmu, bukan angka yang sempurna.

Ahh.... saya ternyata baru menyadari bahwa cara berpikir saya salah soal nilai. Saya terlanjur mengikuti paradigma kebanyakan orang tua. Ternyata saya memang tak lebih dewasa dari anak saya yang berumur 15 tahun. Namun sekarang saya pun harus mengakui kedewasaan berpikir bukan lagi terletak pada umur. Banyak orang dewasa yang berpikir kekanak-kanakan. Jadi apakah salah jika kita berguru pada anak-anak...??


*Sumber dari tulisan saya di Kompasiana

























 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India