| sheknows.com |
Membandingkan anak sekolah tahun 80-90 an seperti saya
dengan anak sekolah jaman sekarang seperti anak saya rasanya seperti
membandingkan bumi dengan langit. Ya iyalah... jamannya aja beda
hehehe.... Jaman saya dulu mana ada
sinetron remaja yang tayang setiap hari seperti sekarang. Wong stasiun
televisinya dulu kan cuma TVRI.
Sinetron remaja yang saya ingat ACI (Aku Cinta Indonesia), Rumah Masa Depan
dan Kisah Serumpun Bambu, yang hanya tayang setiap minggu. Sinetron ACI ceritanya hanya pada sekitar
konflik remaja yang sederhana dengan penampilan tokohnya yang juga
sederhana. Ada penyelesaian di akhir
cerita jika terjadi konflik, dan sudah jelas ada muatan pendidikan dan pesan
moral kehidupan di sana. Bandingkan dengan cerita sinetron remaja sekarang,
cerita yang diangkat kadang berlebihan dan cenuderung kurang mendidik seperti
rebutan pacarlah, pamer mobil, persaingan antar kelompok teman dan
penampilannya itu loh... glamour. Saya nggak bisa membayangkan kalau nggak ada
aturan pakai seragam di sekolah, mungkin gaya berbusana anak-anak sekolah
terutama remaja usia SMP dan SMU itu mengalahkan gaya busana anak kuliahan
hehehe....
Jaman saya dulu mana ada alat komunikasi seperti handphone,
sedangkan yang punya telepon rumah hanya orang-orang yang ekonominya menengah
ke atas saja. Saya jadi ingat saat anak sulung saya kelas 5 SD di sebuah
sekolah negeri di Pekanbaru, merajuk minta dibelikan handphone. Saya lihat
beberapa temannya memang sudah dibekali handphone oleh orang tuanya. Tapi saya
nggak serta merta membelikannya, saya
pikir belum cukup perlu untuk membekali handphone buat anak SD kelas 5, paling
juga buat gaya aja hehehe... Saya bilang sama dia kalau mau dibelikan handphone
nilai UANnya minimal 9. Akhirnya ketika dia bisa buktikan bahwa nilai UANnya
rata-rata di atas 9 ya mau nggak mau dibelikan handphone sesuai janji. Paling
tidak, ada usaha untuk mendapatkannya, lagipula saya rasa sudah cukup untuk
dibekali handphone ketika di SMP karena sekolahnya memang jauh dari rumah.
Sekarang saat si adik duduk di kelas 6 SD, biarpun nggak
menuntut untuk dibelikan handphone tapi saya tetap membekalinya dengan
handphone karena kami tinggal di negara orang saat ini, dan jarak antara rumah
dan sekolahnya lumayan jauh. Ditambah lagi berangkat sekolah naik angkutan umum
(subway) jadi saya rasa perlu untuk memberikan handphone untuknya dan handphone
yang dibawanya hanya berfungsi untuk berkomunikasi asal bisa buat nelpon dan
SMS.
Saya ingat betul waktu saya SMP sekitar tahun 1988, pernah
nonton serial film yang saya lupa judulnya. Salah satu adegannya, si tokoh
utama menulis semacam catatan hariannya di sebuah PC. Waktu itu saya dibuat
takjub dan berpikir enaknya ya tulisannya bisa di simpan di layar monitor dan
bisa di sisipi kata-kata tanpa harus menghapus tulisan di depan atau di
belakangnya, canggih banget. Sampai mikir kapan ya bisa punya alat kayak
begitu. Saya kenal dan memakai komputer saat saya SMU sekitar tahun 90-an
karena jadi kurikulum wajib di sekolah. Softwarenya masih pakai Word Star. Ya
ampuuunnnn... jadul amat ya?? hehehehe.. Kalau sekarang, jangankan anak SMP.. anak play
group pun sudah mahir menggunakan PC, laptop atau komputer tablet.
Ngomongin internet, jelas jauh bedanya sama jaman saya dulu.
Cari informasi apapun cukup mengetikkan kata kunci di mesin pencari. Apapun
bisa di lihat lewat yang namanya internet. Makanya warung internet tumbuh bak
jamur sekarang. Tugas-tugas sekolah nggak jamannya lagi menggunting-gunting
majalah dan koran untuk dijadikan klipping, tinggal cari di internet terus di
print. Dunia seakan digenggaman tangan karena lewat hand phone internet juga
bisa di akses. Ngrumpi dengan teman-teman sekolah, ngomongin tugas sekolah,
nggak perlu harus berkumpul di tempat yang sama. Sambil tiduran mereka bisa
ngrumpi dan diskusi di facebook atau di twitter.
Soal hobi tulis menulis, dulu untuk membuat tulisan yang
ingin dimuat di sebuah media, harus dikonsep lalu diketik untuk kemudian
dikirimkan ke media koran atau majalah. Sarana menyalurkan hobi menulis paling
sederhana adalah majalah dinding sekolah. Kalau di muat dan dibaca temen satu
sekolah rasanya seneng banget. Sekarang, saya cukup iri dengan anak-anak
sekolah yang punya hobi menulis. Banyak tempat untuk menyalurkan hobinya itu,
bisa di blog pribadi atau nulis di blog seperti kompasiana. Yaa... kemajuan teknologi
memiliki banyak dampak positif untuk anak-anak sekolah, walau nggak mengabaikan
dampak negatifnya juga.
Kemajuan jaman memang membawa konsekuensi positif dan
negatif. Peran kita orang tua menjadi filter buat anak-anak untuk menyaring hal
yang negatif menjadi sangat
penting. Orang tua juga perlu tahu
banyak soal teknologi biar nggak ketinggalan dengan anak-anak sehingga nggak
kecolongan. Orang tua juga butuh belajar juga soal ini, kalau nggak tau
bertanya pada anak bukan hal yang bisa membuat kita nggak berwibawa di mata
anak kan?? (EL)


10.24
Ellys
Posted in:
2 comments:
Jangankan ibu yang beda dua dekade, waktu saya SD taun 96-an aja udah beda ama sekarang... :))
Hehehehe.... Apalagi 10-15 tahun yang akan datang jaman anak2nya Fahmi nanti .
Posting Komentar