| Shutterstock.com |
Memiliki buah hati yang sehat
tentu adalah harapan semua orang tua. Apa saja akan dilakukan orang tua untuk
menjaga kesehatan anaknya, bukan hanya saat dia hadir di dunia tetapi sejak si
anak dalam rahim sang ibu. Mengkonsumsi makanan sehat pada masa kehamilan
adalah salah satu usaha untuk menjaga kesehatan calon sang buah hati.
Saat dalam kandungan, bayi tumbuh
dan berkembang tubuh ibu memberinya antibodi melalui plasenta. Dan ini
memberikan kekebalan pasif yang mampu melindungi janin dari serangan penyakit
selama kehamilan. Lalu setelah sang bayi lahir, suplai antibodi tidak lagi
didapatkan, padahal sistem kekebalan tubuh pada bayi yang baru lahir belum
bekerja sempurna. Karenanya bayi sangat rentan akan resiko infeksi pada tahun
pertama kelahirannya.
Kita semua tahu bahwa ASI (Air
Susu Ibu) adalah makanan pertama untuk bayi yang merupakan anugerah dari Tuhan.
Maka dari itu ASI punya segudang keajaiban dalam kandungan nutrisinya. Dan ini
tidak perlu diragukan lagi. Beberapa diantara keajaiban ASI menurut para pakar
adalah:
- Memperkuat sistem kekebalan tubuh, karena ASI
mengandung Prebiotik yaitu zat pembangun sistem kekebalan tubuh.
- Menurunkan resiko alergi
- Menurunkan resiko gangguan pernafasan (mis: batuk dan
flu)
- Menurunkan resiko penyakit saluran cerna (mis: diare)
- Kaya AA dan DHA sebagai zat pendukung pertumbuhan
kecerdasan anak.
Sebenarnya masih banyak
keunggulan ASI yang sudah diteliti para ahli, namun saya bukan mau berpanjang
lebar membahasnya. Saya akan berbagi seputar pengalaman saya tentang pemberian
ASI dan dampaknya beberapa tahun kemudian. Karena masing-masing anak saya mendapat
porsi ASI yang berbeda-beda, maka reaksinya pun berbeda-beda setelah saya amati
tumbuh kembang mereka. Alasannya pun berbeda-beda kenapa saya membedakan mereka
dalam pemberian ASI.
Anak pertama
Saya hanya sempat memberikan ASI
padanya selama 40 hari saja. Bukan tanpa sebab, saat itu saya masih kuliah dan
pada akhirnya saya meminta tolong ibu saya untuk mengasuh anak saya itu
daripada diserahkan pada orang lain dalam hal pengasuhan. Dan ibu saya tinggal
di luar kota ,
jadi memberi ASI ekslusif sudah tidak mungkin, alhasil susu formula adalah
solusinya.
Anak kedua
Saya sedikit terjebak pada
pemikiran yang salah tentang ASI saat anak kedua saya lahir. Mungkin saat itu
saya belum begitu aktif mencari informasi soal ASI. Waktu itu, beberapa saat
setelah bayi saya lahir si bayi mengalami kuning atau istilah kedokterannya
disebut ikterus. Penyebabnya adalah hati yang belum berfungsi dengan baik
sehingga terjadi penumpukan bilirubin. Penjelasan lengkapnya ada di sini.
Waktu itu saya panik karena saya
tidak mengalaminya pada kelahiran anak pertama. Menurut informasi yang saya
terima waktu itu, bayi harus diberikan banyak minum. Nah, saya berpikir bahwa
ASI saya kurang banyak. Maka susu formula lagi-lagi saya berikan saat itu
dikombinasikan dengan pemberian ASI dan keterusan sampai anak saya berumur 6
bulan.
Anak ketiga
Karena informasi tentang ASI
sudah sangat berkembang waktu itu, ditambah saya juga semakin mahir browsing di
internet. Sejak hamil anak ketiga, saya bertekad untuk memberikan ASI Ekslusif
pada 6 bulan pertama dan memberikannya terus sampai anak berumur 2 tahun.
Karena bertekad bulat itulah, saat kelahiran bayi saya menolak mentah-mentah
pemberian susu formula dari rumah sakit. Walaupun sempat kecolongan juga pada
jam-jam pertama, pihak rumah sakit ternyata memberikan susu formula merk
terkenal dan mahal pada bayi saya yang baru lahir.
Sebabnya adalah karena saya
melahirkan secara caesar, dan sempat tidak sadar sehingga saya dipisahkan
dengan bayi selama beberapa jam. Setelah saya saya sadar saya meminta (agak
memaksa) agar saya bisa menyusui bayi saya. Beberapa perawat mengatakan pada
saya waktu itu agar susu formula yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit
tetap diberikan pada bayi. Tapi saya "membandel" dengan tidak
memberikan susu kaleng itu pada bayi saya sehingga akhirnya memang susu formula
sama sekali tidak saya berikan. Alhasil saya sukses memberikan ASI eksklusif
selama 6 bulan dan berlanjut sampai anak ketiga saya berumur 2,3 tahun.
Faktanya
Mengamati tumbuh kembang ketiga
anak saya dari tahun ke tahun saya lalu bisa menarik kesimpulan bahwa ASI
memang sangat membantu dalam membentuk antibodi pada tubuh anak-anak. Jika anak
pertama rentan alergi dan gampang sekali flu, batuk dan pilek, anak kedua juga
mudah tertular flu maka anak ketiga sangat tahan luar biasa terhadap serangan
virus flu. Diare, alergi, dan beberapa penyakit khas anak-anak hampir tidak
pernah menempel di tubuhnya. Hanya batuk sesekali jika dia salah makan.
Terutama saat mereka berada pada usia rentan terkena penyakit (usia balita).
Pernah suatu kali, 2 anak
barengan terkena demam berdarah dan harus opname di rumah sakit, kami sempat
khawatir karena demam berdarah mudah sekali menular namun si bungsu sehat dan
segar bugar. Entah ini karena antibodi yang sudah terbentuk karena pemberian
ASI ekslusif atau bukan tapi saya sih tetap yakin 100% ini karena ASI.
Jika dilihat dari rekam medis
mereka bertiga, si bungsu hampir tidak pernah menjadi pelanggan dokter
dibandingkan dua kakaknya untuk kasus pengobatan sebuah penyakit. Hanya saat
melakukan imunisasi saja dia saya bawa ke dokter.
Kenapa Ibu tidak memberi ASI pada
bayinya??
Informasi tentang keunggulan ASI
sudah sangat banyak dibahas oleh para ahli, baik di media cetak (buku, majalah,
koran), televisi ataupun internet. Maka saya agak heran dengan para ibu yang
enggan memberikan ASI pada anaknya sehingga lebih memilih memberikan susu
formula yang memerlukan budget tambahan tentu saja. Beberapa alasan dikemukakan
oleh beberapa teman yang saya ketika saya bertanya kenapa tidak memberi ASI.
1. ASI tidak keluar
Alasan ini sebenarnya kurang bisa
diterima, karena secara alami ASI akan keluar dan Tuhan tidak membedakan satu
ibu dengan ibu yang lain. Hanya tergantung kemauan dan keyakinan si ibu untuk
memberikan ASInya. Untuk alasan ASI tidak keluar sebenarnya ada beberapa
penyebab antara lain :
- Asupan gizi
- Faktor kesehatan ibu
- Psikologis
Dan ketiga hal itu sebenarnya
bisa diatasi dengan mudah kalau ada niat ditambah dukungan dari suami dan
keluarga.
2. Termakan iklan
Hal ini yang cukup banyak membuat
ibu-ibu enggan memberikan ASI pada bayi mereka. Semakin banyak iklan susu
formula yang mengatakan bahwa merk susu produksi mereka unggul dan sangat baik
untuk membuat anak-anak menjadi cerdas, tahan penyakit, dan sehat. Iklan yang
gencar ditambah "dukungan" rumah sakit untuk memberikan susu formula
saat bayi baru lahir menjadi semakin menyesatkan. Seolah-olah susu formula
lebih baik dari ASI.
Padahal kenyataannya ASI adalah
produk alami tubuh manusia yang dianugerahkan Tuhan untuk diberikan pada
manusia. Ya jelas tidak ada bandingannya... Sudah ada yang gratis koq malah
pilih ngeluarin uang.
3. Malas
Karena saat menyusui penampilan
tidak fashionable maka malas menjadi salah satu alasan yang dikemukakan kenapa
tidak memberi ASI. Memberikan susu formula dengan botol dianggap tidak merusak
penampilan dan nggak bikin berantakan katanya. Hehehehe... alasan yang cukup
membuat kening saya berkerut. Mau punya anak tapi nggak mau terganggu
penampilannya karena menyusui.
Apapun alasannya, ASI tetap
makanan pertama untuk bayi dengan nutrisi paling lengkap dan nomor satu di
jagat raya ini. ASI adalah hak anak dan ibu memiliki kewajiban untuk memenuhi
hak anak tersebut.
Dan saya menyesal..... pernah
tidak memberikan ASI ekslusif pada 2 anak saya...
*ditulis oleh : ellys
*ditulis oleh : ellys


13.30
Ellys
Posted in:
0 comments:
Posting Komentar