Anton adalah nama panggilan tetangga saya. Nama lengkapnya
Antonius Teguh Santosa. Dia duduk di kelas 3, sekolah dasar swasta didekat rumah
kami. Ayah dan ibunya berpendidikan S2
dan keduanya berprofesi sebagai pegawai negeri, yang hidup sederhana.Anton
sering memanjat pohon mangga yang sedang berbuah, atau main petak-umpet dengan
teman-temannya di halaman rumah saya. Kelihatan bahwa Anton anak cerdas,
kreatif, dan berani untuk mengungkapkan pendapatnya. Saya sering “berdiskusi”
cukup seru, ketika mereka sedang istirahat, setelah lelah bermain.
Suatu hari, saya
melihat Anton termenung lesu dan duduk dibawah pohon rambutan di halaman rumah kami. Dia duduk
sendirian, sementara teman-temannya berlarian kian-kemari sambil
berteriak-teriak tak jelas apa yang dimaksud. Saya dekati dia dan saya tegur,
mengapa dia termenung dan tidak ikut bermain. Sambil tetap memasang muka tak
bersahabat, Anton berujar dengan nada mengeluh. “Nilai seni lukis saya dapat
jelek”, ujarnya.
Saya agak terkejut dengan curhat itu.
Setahu saya, Anton anak yang pandai melukis, dan coretannya
selalu out of the box. Saya mulai tertarik dengan diskusi ini, dan meminta
Anton kembali ke rumahnya untuk mengambil hasil lukisan tersebut.Tak
lama kemudian, sambil setengah berlari, meskipun dengan muka tetap ditekuk,
Anton menunjukkan lukisannya yang, menurut saya, sangat luar biasa. Dia
menggambar suasana perumahan di kampung kami dengan sangat indah. Jalan-jalan
kumuh didekat rumah, disulap menjadi artistik di kertas gambarnya.
Ada catatan dari ibu guru, dipojok atas kertas, yang
nampaknya mengomentari warna genteng rumah tetangga. Ia kira-kira berbunyi :
“Warna genteng harus merah, hitam atau coklat”, sementara warna di kertas
gambar adalah biru, hijau dan bahkan ungu.Ibu guru, dalam cerita diatas, tidak
salah. Ia harus memenuhi pakem atau kisi-kisi yang digariskan oleh atasannya
tentang warna suatu obyek benda. Mungkin dia hanya kurang memahami
bagaimana seorang pendidik harus menyampaikan pesan kepada anak-didiknya.
Pendidikan bagi
anak-anak seusia Anton sangat menentukan, kritikal. Ia bisa mengubah jalan
hidup anak-didik. Ia menjadi faktor penentu bagaimana jiwa dan karakter
seorang anak terbentuk. Menjadi positif berkembang, mandeg atau bahkan
negatif-terbunuh. Sementara itu, para
psikolog pendidikan yang menganut paham psikologi-positif sangat menganjurkan
agar anak seusia Anton mendapat pendidikan dalam suasana yang bebas, demokratis
dan interaktif.
Bahkan cenderung tak berpola.
Tidak heran bahwa pemikiran anak-didik yang out the box
justru menjadi pemicu dan pemacu tumbuh-kembang kreativitas sang anak. Mereka
yang mendapat suasana kebebasan dalam berpikir dan mengemukakan pemikirannya, anak-didik
yang berani berbeda dengan pakem dan kisi-kisi yang biasa-biasa saja, sang anak
yang melakukan kesalahan normatif, cenderung liar dan cenderung melanggar
aturan, justru merupakan sumber tumbuhnya anak-bangsa yang kreatif.
Cerita senada dialami anak seusia Anton 10 tahun
berselang, yang kecewa dengan guru, karena dihukum ketika memanjat tembok
sekolah untuk mengambil bola yang terbuang keluar halaman sekolah.Aturan sekolah mengatakan bahwa keluar halaman sekolah di jam belajar, harus
izin kepala sekolah dan, tentunya, harus lewat pintu gerbang. Si
anak yang merasa bahwa “aturan” tersebut justru memperlama proses pengambilan
bola, sementara waktu-mainnya tinggal sebentar, ambil jalan pintas.Dia memang
melanggar aturan sekolah, tetapi sekaligus menunjukkan tanda-tanda bahwa
dirinya mempunyai bekal kreativitas yang sangat dibutuhkan untuk berkembang.
Dia mempunyai keberanian untuk memutuskan yang terbaik bagi kelompoknya, dia
pengambil keputusan yang decisive, dia berani mengambil resiko, dia mempunyai
need of achievement yang tinggi, tapi semuanya itu sangat mungkin musna karena
kemudian disalahkan, bahkan dihukum oleh institusi pendidikan, yang namanya
sekolah.
Pendidikan yang baik memang harus mempunyai latar-belakang
budaya masyarakatnya. Ironisnya, masyarakat Indonesia pada umumnya, yang
tercermin pada budaya pendidikan di sekolah-sekolah, justru mempunyai konteks
yang bertolak belakang dengan apa yang disyaratkan untuk membangun manusia
kreatif.Pendidikan satu arah, instruktif, otoritatif, mengacu pada pola tertentu secara
mati, tanpa kebebasan dan dengan tingkat uncertainty avoidance yang tinggi
melahirkan anak-bangsa yang cenderung normatif, tidak kreatif, yes-man,
introvert dan tidak melahirkan terobosan-terobosan yang dibutuhkan suatu bangsa
untuk maju.
Satu hal yang menjadi kendala dalam penciptaan iklim
pendidikan seperti diatas adalah syarat ketelatenan dari para pendidik.
“Membiarkan” anak-didik untuk berkembang bebas, tanpa merusak pola dan tatanan
yang ada, adalah dua hal yang sering sulit dikompromikan. Tetapi,
terobosan-terobosan kreatif dan kesabaran berlebih membuahkan hasil yang
mengagumkan, meskipun harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.
Tiba-tiba saya ingat pendapat Andrew S Grove, the former CEO Intel Corporation,
yang mengatakan bahwa inovasi tidak akan lahir pada masa dan manusia tenang, ia
sering lahir pada situasi anarkis.
*sumber : Kompasiana/Pm Susbandono


08.00
Ellys
Posted in:
0 comments:
Posting Komentar