7/03/2012

Sekolah : Membangun atau Membunuh Kreativitas..??


Anton adalah nama panggilan tetangga saya. Nama lengkapnya Antonius Teguh Santosa. Dia duduk di kelas 3, sekolah dasar swasta didekat rumah kami.  Ayah dan ibunya berpendidikan S2 dan keduanya berprofesi sebagai pegawai negeri, yang hidup sederhana.Anton sering memanjat pohon mangga yang sedang berbuah, atau main petak-umpet dengan teman-temannya di halaman rumah saya. Kelihatan bahwa Anton anak cerdas, kreatif, dan berani untuk mengungkapkan pendapatnya. Saya sering “berdiskusi” cukup seru, ketika mereka sedang istirahat, setelah lelah bermain. 

 Suatu hari, saya melihat Anton termenung lesu dan duduk dibawah pohon  rambutan di halaman rumah kami. Dia duduk sendirian, sementara teman-temannya berlarian kian-kemari sambil berteriak-teriak tak jelas apa yang dimaksud. Saya dekati dia dan saya tegur, mengapa dia termenung dan tidak ikut bermain.  Sambil tetap memasang muka tak bersahabat, Anton berujar dengan nada mengeluh. “Nilai seni lukis saya dapat jelek”, ujarnya. Saya agak terkejut dengan curhat itu. 
 
Setahu saya, Anton anak yang pandai melukis, dan coretannya selalu out of the box. Saya mulai tertarik dengan diskusi ini, dan meminta Anton kembali ke rumahnya untuk mengambil hasil lukisan tersebut.Tak lama kemudian, sambil setengah berlari, meskipun dengan muka tetap ditekuk, Anton menunjukkan lukisannya yang, menurut saya, sangat luar biasa. Dia menggambar suasana perumahan di kampung kami dengan sangat indah. Jalan-jalan kumuh didekat rumah, disulap menjadi artistik di kertas gambarnya.


Ada catatan dari ibu guru, dipojok atas kertas, yang nampaknya mengomentari warna genteng rumah tetangga. Ia kira-kira berbunyi : “Warna genteng harus merah, hitam atau coklat”, sementara warna di kertas gambar adalah biru, hijau dan bahkan ungu.Ibu guru, dalam cerita diatas, tidak salah. Ia harus memenuhi pakem atau kisi-kisi yang digariskan oleh atasannya tentang warna suatu obyek benda. Mungkin dia hanya kurang memahami bagaimana seorang pendidik harus menyampaikan pesan kepada anak-didiknya. 

Pendidikan bagi anak-anak seusia Anton sangat menentukan, kritikal. Ia bisa mengubah jalan hidup anak-didik. Ia menjadi faktor penentu bagaimana jiwa dan karakter seorang anak terbentuk.  Menjadi positif berkembang, mandeg atau bahkan negatif-terbunuh.  Sementara itu, para psikolog pendidikan yang menganut paham psikologi-positif sangat menganjurkan agar anak seusia Anton mendapat pendidikan dalam suasana yang bebas, demokratis dan interaktif. Bahkan cenderung tak berpola. 
 
Tidak heran bahwa pemikiran anak-didik yang out the box justru menjadi pemicu dan pemacu tumbuh-kembang kreativitas sang anak. Mereka yang mendapat suasana kebebasan dalam berpikir dan mengemukakan pemikirannya, anak-didik yang berani berbeda dengan pakem dan kisi-kisi yang biasa-biasa saja, sang anak yang melakukan kesalahan normatif, cenderung liar dan cenderung melanggar aturan, justru merupakan sumber tumbuhnya anak-bangsa yang kreatif.

Cerita senada dialami anak seusia Anton 10 tahun berselang, yang kecewa dengan guru, karena dihukum ketika memanjat tembok sekolah untuk mengambil bola yang terbuang keluar halaman sekolah.Aturan sekolah mengatakan bahwa keluar halaman sekolah di jam belajar, harus izin kepala sekolah dan, tentunya, harus lewat pintu gerbang. Si anak yang merasa bahwa “aturan” tersebut justru memperlama proses pengambilan bola, sementara waktu-mainnya tinggal sebentar, ambil jalan pintas.Dia memang melanggar aturan sekolah, tetapi sekaligus menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya mempunyai bekal kreativitas yang sangat dibutuhkan untuk berkembang.

Dia mempunyai keberanian untuk memutuskan yang terbaik bagi kelompoknya, dia pengambil keputusan yang decisive, dia berani mengambil resiko, dia mempunyai need of achievement yang tinggi, tapi semuanya itu sangat mungkin musna karena kemudian disalahkan, bahkan dihukum oleh institusi pendidikan, yang namanya sekolah.

Pendidikan yang baik memang harus mempunyai latar-belakang budaya masyarakatnya. Ironisnya, masyarakat Indonesia pada umumnya, yang tercermin pada budaya pendidikan di sekolah-sekolah, justru mempunyai konteks yang bertolak belakang dengan apa yang disyaratkan untuk membangun manusia kreatif.Pendidikan satu arah, instruktif, otoritatif, mengacu pada pola tertentu secara mati, tanpa kebebasan dan dengan tingkat uncertainty avoidance yang tinggi melahirkan anak-bangsa yang cenderung normatif, tidak kreatif, yes-man, introvert dan tidak melahirkan terobosan-terobosan yang dibutuhkan suatu bangsa untuk maju.

Satu hal yang menjadi kendala dalam penciptaan iklim pendidikan seperti diatas adalah syarat ketelatenan dari para pendidik. “Membiarkan” anak-didik untuk berkembang bebas, tanpa merusak pola dan tatanan yang ada, adalah dua hal yang sering sulit dikompromikan. Tetapi, terobosan-terobosan  kreatif dan kesabaran berlebih membuahkan hasil yang mengagumkan, meskipun harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.  Tiba-tiba saya ingat pendapat Andrew S Grove, the former CEO Intel Corporation, yang mengatakan bahwa inovasi tidak akan lahir pada masa dan manusia tenang, ia sering lahir pada situasi anarkis.

*sumber : Kompasiana/Pm Susbandono
Postingan Terkait Lainnya :


0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India