7/02/2012

Heran, Kenapa Ya Masih Banyak Ibu Enggan Memberikan ASI?


Shutterstock.com

Memiliki buah hati yang sehat tentu adalah harapan semua orang tua. Apa saja akan dilakukan orang tua untuk menjaga kesehatan anaknya, bukan hanya saat dia hadir di dunia tetapi sejak si anak dalam rahim sang ibu. Mengkonsumsi makanan sehat pada masa kehamilan adalah salah satu usaha untuk menjaga kesehatan calon sang buah hati.

Saat dalam kandungan, bayi tumbuh dan berkembang tubuh ibu memberinya antibodi melalui plasenta. Dan ini memberikan kekebalan pasif yang mampu melindungi janin dari serangan penyakit selama kehamilan. Lalu setelah sang bayi lahir, suplai antibodi tidak lagi didapatkan, padahal sistem kekebalan tubuh pada bayi yang baru lahir belum bekerja sempurna. Karenanya bayi sangat rentan akan resiko infeksi pada tahun pertama kelahirannya.

Kita semua tahu bahwa ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan pertama untuk bayi yang merupakan anugerah dari Tuhan. Maka dari itu ASI punya segudang keajaiban dalam kandungan nutrisinya. Dan ini tidak perlu diragukan lagi. Beberapa diantara keajaiban ASI menurut para pakar adalah:

  1. Memperkuat sistem kekebalan tubuh, karena ASI mengandung Prebiotik yaitu zat pembangun sistem kekebalan tubuh.
  1. Menurunkan resiko alergi
  1. Menurunkan resiko gangguan pernafasan (mis: batuk dan flu)

  1. Menurunkan resiko penyakit saluran cerna (mis: diare)

  1. Kaya AA dan DHA sebagai zat pendukung pertumbuhan kecerdasan anak.


Sebenarnya masih banyak keunggulan ASI yang sudah diteliti para ahli, namun saya bukan mau berpanjang lebar membahasnya. Saya akan berbagi seputar pengalaman saya tentang pemberian ASI dan dampaknya beberapa tahun kemudian. Karena masing-masing anak saya mendapat porsi ASI yang berbeda-beda, maka reaksinya pun berbeda-beda setelah saya amati tumbuh kembang mereka. Alasannya pun berbeda-beda kenapa saya membedakan mereka dalam pemberian ASI.

Anak pertama

Saya hanya sempat memberikan ASI padanya selama 40 hari saja. Bukan tanpa sebab, saat itu saya masih kuliah dan pada akhirnya saya meminta tolong ibu saya untuk mengasuh anak saya itu daripada diserahkan pada orang lain dalam hal pengasuhan. Dan ibu saya tinggal di luar kota, jadi memberi ASI ekslusif sudah tidak mungkin, alhasil susu formula adalah solusinya.



Anak kedua

Saya sedikit terjebak pada pemikiran yang salah tentang ASI saat anak kedua saya lahir. Mungkin saat itu saya belum begitu aktif mencari informasi soal ASI. Waktu itu, beberapa saat setelah bayi saya lahir si bayi mengalami kuning atau istilah kedokterannya disebut ikterus. Penyebabnya adalah hati yang belum berfungsi dengan baik sehingga terjadi penumpukan bilirubin. Penjelasan lengkapnya ada di sini.

Waktu itu saya panik karena saya tidak mengalaminya pada kelahiran anak pertama. Menurut informasi yang saya terima waktu itu, bayi harus diberikan banyak minum. Nah, saya berpikir bahwa ASI saya kurang banyak. Maka susu formula lagi-lagi saya berikan saat itu dikombinasikan dengan pemberian ASI dan keterusan sampai anak saya berumur 6 bulan.

Anak ketiga

Karena informasi tentang ASI sudah sangat berkembang waktu itu, ditambah saya juga semakin mahir browsing di internet. Sejak hamil anak ketiga, saya bertekad untuk memberikan ASI Ekslusif pada 6 bulan pertama dan memberikannya terus sampai anak berumur 2 tahun. Karena bertekad bulat itulah, saat kelahiran bayi saya menolak mentah-mentah pemberian susu formula dari rumah sakit. Walaupun sempat kecolongan juga pada jam-jam pertama, pihak rumah sakit ternyata memberikan susu formula merk terkenal dan mahal pada bayi saya yang baru lahir.

Sebabnya adalah karena saya melahirkan secara caesar, dan sempat tidak sadar sehingga saya dipisahkan dengan bayi selama beberapa jam. Setelah saya saya sadar saya meminta (agak memaksa) agar saya bisa menyusui bayi saya. Beberapa perawat mengatakan pada saya waktu itu agar susu formula yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit tetap diberikan pada bayi. Tapi saya "membandel" dengan tidak memberikan susu kaleng itu pada bayi saya sehingga akhirnya memang susu formula sama sekali tidak saya berikan. Alhasil saya sukses memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan berlanjut sampai anak ketiga saya berumur 2,3 tahun.

Faktanya

Mengamati tumbuh kembang ketiga anak saya dari tahun ke tahun saya lalu bisa menarik kesimpulan bahwa ASI memang sangat membantu dalam membentuk antibodi pada tubuh anak-anak. Jika anak pertama rentan alergi dan gampang sekali flu, batuk dan pilek, anak kedua juga mudah tertular flu maka anak ketiga sangat tahan luar biasa terhadap serangan virus flu. Diare, alergi, dan beberapa penyakit khas anak-anak hampir tidak pernah menempel di tubuhnya. Hanya batuk sesekali jika dia salah makan. Terutama saat mereka berada pada usia rentan terkena penyakit (usia balita).

Pernah suatu kali, 2 anak barengan terkena demam berdarah dan harus opname di rumah sakit, kami sempat khawatir karena demam berdarah mudah sekali menular namun si bungsu sehat dan segar bugar. Entah ini karena antibodi yang sudah terbentuk karena pemberian ASI ekslusif atau bukan tapi saya sih tetap yakin 100% ini karena ASI.

Jika dilihat dari rekam medis mereka bertiga, si bungsu hampir tidak pernah menjadi pelanggan dokter dibandingkan dua kakaknya untuk kasus pengobatan sebuah penyakit. Hanya saat melakukan imunisasi saja dia saya bawa ke dokter.

Kenapa Ibu tidak memberi ASI pada bayinya??

Informasi tentang keunggulan ASI sudah sangat banyak dibahas oleh para ahli, baik di media cetak (buku, majalah, koran), televisi ataupun internet. Maka saya agak heran dengan para ibu yang enggan memberikan ASI pada anaknya sehingga lebih memilih memberikan susu formula yang memerlukan budget tambahan tentu saja. Beberapa alasan dikemukakan oleh beberapa teman yang saya ketika saya bertanya kenapa tidak memberi ASI.

1. ASI tidak keluar

Alasan ini sebenarnya kurang bisa diterima, karena secara alami ASI akan keluar dan Tuhan tidak membedakan satu ibu dengan ibu yang lain. Hanya tergantung kemauan dan keyakinan si ibu untuk memberikan ASInya. Untuk alasan ASI tidak keluar sebenarnya ada beberapa penyebab antara lain :   
  • Asupan gizi   
  • Faktor kesehatan ibu   
  • Psikologis   

Dan ketiga hal itu sebenarnya bisa diatasi dengan mudah kalau ada niat ditambah dukungan dari suami dan keluarga.

2. Termakan iklan

Hal ini yang cukup banyak membuat ibu-ibu enggan memberikan ASI pada bayi mereka. Semakin banyak iklan susu formula yang mengatakan bahwa merk susu produksi mereka unggul dan sangat baik untuk membuat anak-anak menjadi cerdas, tahan penyakit, dan sehat. Iklan yang gencar ditambah "dukungan" rumah sakit untuk memberikan susu formula saat bayi baru lahir menjadi semakin menyesatkan. Seolah-olah susu formula lebih baik dari ASI.

Padahal kenyataannya ASI adalah produk alami tubuh manusia yang dianugerahkan Tuhan untuk diberikan pada manusia. Ya jelas tidak ada bandingannya... Sudah ada yang gratis koq malah pilih ngeluarin uang.

3. Malas

Karena saat menyusui penampilan tidak fashionable maka malas menjadi salah satu alasan yang dikemukakan kenapa tidak memberi ASI. Memberikan susu formula dengan botol dianggap tidak merusak penampilan dan nggak bikin berantakan katanya. Hehehehe... alasan yang cukup membuat kening saya berkerut. Mau punya anak tapi nggak mau terganggu penampilannya karena menyusui.

Apapun alasannya, ASI tetap makanan pertama untuk bayi dengan nutrisi paling lengkap dan nomor satu di jagat raya ini. ASI adalah hak anak dan ibu memiliki kewajiban untuk memenuhi hak anak tersebut.

Dan saya menyesal..... pernah tidak memberikan ASI ekslusif pada 2 anak saya...


*ditulis oleh : ellys

Tips Menjaga Kesehatan Anak


healthybodyforkids.com


Menjaga kesehatan anak menjadi perhatian khusus para ibu, terlebih saat pergantian musim yang umumnya disertai dengan berkembangnya berbagai penyakit. Saat pergantian musim terjadi, tubuh beradaptasi ekstra keras menghadapi perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim hujan. Udara yang semula panas-kering, tiba-tiba menjadi dingin-lembap. Kondisi ini, menimbulkan ketidaknyamanan, juga membuat tubuh mudah terserang penyakit. Umumnya musim pancaroba diawali hujan yang tidak merata. Ini menyebabkan sebagian kawasan masih tetap berdebu dan berudara panas.
Selanjutnya, debu dan kotoran yang masih tersisa di kawasan tersebut dengan mudah diterbangkan angin ke kawasan lain, dan menjadi vektor (pembawa) penyakit. Anak-anak, terutama usia balita, termasuk yang rentan penyakit di musim pancaroba. Kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin berkembang menjadi gangguan kesehatan yang merugikan.

A. Demam
Demam adalah salah satu gangguan kesehatan yang kerap diderita anak di musim pancaroba. Ini bisa jadi lantaran baru di musim pancaroba inilah anak-anak digempur serangan berbagai kuman (biasanya virus) secara besar-besaran. Demam bukan penyakit. Melainkan gejala bahwa tubuh tengah membangun pertahanan melawan infeksi. Lebih tepatnya, demam bisa merupakan gejala aneka penyakit. Mulai infeksi ringan sampai yang serius.

B. Penyakit Saluran Pernafasan
Salah satu penyakit anak di musim pancaroba yang didahului demam adalah penyakit pada sistem pernapasan. Demam yang merupakan gejala penyakit sistem pernafasan biasanya ringan sampai sedang (37,4 – 39,4 derajat Celsius).

Tapi pada beberapa kasus influensa pada anak, demam bisa mencapai 39,9 derajat Celsius. Gejala awal penyakit saluran pernapasan bisa berupa batuk, yang kadang disertai sesak napas. Bisa juga berupa batuk yang disertai pilek, bersin-bersin dan peningkatan suhu tubuh. Bisa juga muncul gejala khusus, yaitu pernapasan yang tidak normal.
Berdasarkan lokasi yang diserang, penyakit ini dibedakan menjadi dua:

1.     1.  Penyakit saluran pernapasan bagian atas .

     Umumnya gejala penyakit saluran napas bagian atas lebih ringan, misalnya batuk-pilek. Hanya saja pada kasus tertentu bisa muncul gejala yang serius, misalnya demam yang agak tinggi (pada radang tenggorok) dan toksemia atau keracunan (pada difteri).

2.       2. Penyakit saluran pernapasan bagian bawah.
   Gangguan di bagian ini bisa memunculkan bronkopneumonia, yaitu radang paru-paru yang berasal dari cabang-cabang tenggorokan yang mengalami infeksi, dan bronkioetitis, yaitu infeksi serius pada cabang terakhir saluran napas yang berdekatan dengan jaringan paru-paru.

C. Penyakit Saluran Cerna

Di peralihan musim kemarau ke musim hujan, kasus penyakit ini menjadi tinggi lantaran banyaknya debu dan kotoran yang berpotensi menjadi vektor. Penyakit ini juga sangat erat kaitannya dengan pola konsumsi makanan. Sebab penyakit ini umumnya disebabkan kuman atau virus yang biasa mencemari makanan dan minuman, apakah itu makanan buatan rumah ataupun makanan jajanan dari luar rumah. Mengingat pola makan anak yang cenderung semaunya, kemungkinan terjadinya penyakit ini menjadi sangat besar.

Penyakit saluran cerna biasanya didahului keluhan mencret, mual dan muntah. Gejala muntah dan mencret biasanya disertai demam, sakit kepala dan mulas-mulas. Tinja anak mungkin tampak berlendir dan bahkan berdarah (jika penyebabnya bukan infeksi, gejala muntah dan mencret jarang disertai mulas dan tinjanya pun tanpa lendir dan darah).

Agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan, pertolongan pertama biasanya diprioritaskan untuk menghentikan muntah dan mencret. Dan setelah diberi penanganan, dalam 3 hari umumnya keluhan berkurang. Jika tidak, anak perlu mendapatkan penanganan yang lebih serius.

D. Pencegahan dan Pengobatan

  • Menjaga asupan makanan anak. Nutrisi yang cukup, sesuai dengan usia, berat badan dan aktivitas anak anda akan meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit
  • Melengkapinya dengan multivitamin. Suplemen ini mengandung beragam vitamin esensial (yang tidak bisa dibuat sendiri oleh tubuh). Bila diberikan secara tepat – komposisi dan dosisnya disesuaikan dengan kebutuhan anak – multivitamin bisa membantu meningkatkan ketahanan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit pancaroba.
  • Pastikan setiap makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulut anak adalah yang terjamin kebersihannya. Artinya, selain harus lebih higienis dalam mengolah dan menyiapkan makanan di rumah, bujuklah anak untuk tidak jajan sembarangan.
    *sumber : dechacare.com




Minum Susu Sebaiknya Malam Hari


medimanage.com


Susu, sudah banyak yang mengetahui kandungan gizi di dalamnya banyak memberikan manfaat bagi tubuh. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk mengonsumsinya?
Hal ini dibahas dalam diskusi di grup facebook Gerakan Sadar Gizi. Kurnia Ayu melontarkan pertanyaan,
"Minum susu itu baiknya pagi atau malam hari ya?"
Dalam diskusi ini, dr Rini Sjoekri menulis susu mengandung asam amino tryptophan suatu prekursor untuk neurotransmitter serotonin. Neurotransmitter ini bersifat menenangkan sehingga membantu proses tidur.

"Jadi sebaiknya susu diminum sebelum tidur," kata Rini.

Nor Hasanah, dalam diskusi ini menambahkan, kalsium dalam susu merupakan salah satu nutrisi terbaik untuk menjaga kesehatan tulang karena kalsiumnya lebih mudah diserap tubuh. Untuk hasil maksimal sebaiknya susu dikonsumsi pada malam hari.

Pada malam hari osteoklas atau sel-sel penghancur tulang tidak bekerja. Pada malam hari aktivitas kita juga tidak banyak sehingga kalsium susu terserap optimal.

"Kerja kalsium terutama malam hari. Jadi, jika tujuannya untuk meningkatkan penyerapan kalsium mengkonsumsi susu sebaiknya pada malam hari," tulis Nor Hasanah.

*sumber : dr.anak.blogspot

Bermain Membantu Anak Lebih Kreatif


almightydad.com



Dunia anak adalah dunia bermain, tak heran jika dalam pikiran mereka hanya ada permainan. Jangan buru-buru panik bila menyadari anak hanya ingin bermain. Psikolog Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd, bahkan mengungkapkan bahwa anak-anak dengan usia bermain (sampai usia 12 tahun) justru harus diberi waktu lebih untuk bermain.

"Sampai sekarang banyak orangtua yang cenderung merasa khawatir karena anak-anaknya lebih sering bermain dibanding belajar," ungkap Diana kepada Kompas Female, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Karena menganggap anak terlalu sering bermain, orangtua lalu menjejali waktu kosong anak dengan berbagai les pelajaran sepulang sekolah. Sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan karena bisa membuat anak menjadi stres dan cenderung tidak kreatif. Tetapi, jika ingin tetap mengisi waktu anak dengan kegiatan yang bermanfaat, sebaiknya hindari memberikan les pelajaran kepada anak. Anda bisa memberi mereka les keterampilan dan kesenian seperti les menari, melukis, musik, dan lain sebagainya.

"Les seperti ini juga bisa membantu merangsang kreativitas dan perkembangan otak mereka," ungkap Diana.

Menurut sebuah riset, anak-anak dalam usia bermain yang diberi waktu lebih lama untuk bermain di luar rumah dan ruang untuk berekspresi, ternyata jauh lebih pandai dan lebih kreatif dibanding anak yang hanya belajar formal di sekolah atau di tempat kursus. "Ketika anak bermain di luar rumah mereka akan menemukan berbagai hal baru, dan mampu mengkomunikasikan keinginannya kepada teman-temannya," tukasnya.

Bermain terbukti membantu anak untuk lebih mudah bersosialisasi dengan teman-teman lainnya. Ketika bergaul dengan anak-anak lain, anak mungkin akan menemukan beragam konflik. Proses bermain dan berkonflik dengan teman ini akan membantu membentuk kemampuan anak untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dengan teman. Dalam prosesnya, bermain juga kerap diidentikkan dengan proses kreatif yang dialaminya.

"Waktu bermain, anak juga dituntut untuk lebih kreatif dengan menciptakan permainan sendiri dari bahan yang ada di sekitarnya, agar permainan mereka lebih menyenangkan," tutur psikolog yang berpraktik di RS Pluit dan Intermed Health Care ini.

Strategi membuat anak mau belajar

Untuk menghindari stres pada anak, Diana menyarankan untuk tidak terlalu membebani anak dengan berbagai pelajaran sepulang sekolah. Sebaiknya, beri waktu anak untuk bermain setelah pulang sekolah dan belajar di sore hari. "Riset membuktikan bahwa setelah bermain, otak anak menjadi lebih segar dan lebih siap untuk menerima pelajaran. Proses belajar pun jadi menyenangkan bagi mereka," tambah pengajar di James Cook University, Singapura, ini.

Namun sebagai orangtua pasti Anda tak ingin anak menjadi malas belajar. Ada strategi yang bisa dilakukan untuk menyiasati agar anak tak hanya suka bermain, tapi juga suka belajar. "Selang-selingkan antara kegiatan dan jadwal yang disukai dengan yang tidak disukainya," tukasnya.

Waktu bermain bisa diselang-seling dengan waktu belajar. Sepulang sekolah, biarkan anak bermain sampai siang hari. Sore harinya, beri anak waktu untuk belajar, dan mengerjakan semua tugas sekolahnya. Malam hari sebelum tidur, anak boleh menonton televisi. Jadwal yang berselang-seling ini bisa membantu anak untuk mengerjakan tugas mereka lebih cepat, tepat, dan bersemangat untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, mereka bisa segera melakukan hal yang diinginkannya.

*sumber : KompasFemale

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India