7/11/2012

"Andai Ikan Mas itu Ibuku.."



"Hayo jangan lupa sikat gigi.."

"Jangan lupa cuci kakinya sebelum tidur"

"Eh.. jangan ganggu adikmu ya.."

"Eittt... rambutnya disisir dong.."

"Handuknya jangan ditaruh di tempat tidur ya.. "

"Sepatu ditaruh tempatnya tuh.."

"Baju kotornya taruh di keranjang cucian jangan lupa..."

Lalu si anak bergumam sambil memandangi aquarium, "Andai saja ikan mas itu ibuku..."

Sampai sekarang kalau inget percakapan dalam cerita itu, bawaannya pengen ketawa. Koq ya gambarannya pas banget sama saya gitu loh.... bawel.. hehehehe...(ngaku). Sambil bertanya-tanya dalam hati, apa iya sih yang namanya ibu-ibu di seluruh dunia itu bawel? Lha wong percakapan di atas itu ada di buku bacaannya Faiz yang sekolahnya di sekolah Inggris. Mungkinkan ibu-ibu di Inggris itu juga sama bawelnya dengan saya..??

Nggak tau deh kalo ibu-ibu yang lain apakah sebawel ibu yang ada di bukunya Faiz atau malah nggak merasa bawel sama sekali. Rasanya kalau saya nggak bawel nih, rumah tuh bakalan berantakan deh. Anak-anak sekarang koq sepertinya beda banget sama jaman saya dulu, kalau nggak diperintah nggak jalan. Sikat gigi aja pake diingetin tiap hari. Koq ya sepertinya seneng banget dengerin suara merdu ibunya.... hehehe..

Saya inget banget jaman saya SD, ibu saya juga suka nyuruh saya beresin tempat tidur, habis makan piring, sendok dan gelasnya harus di cuci, keramas tiap 2 hari sekali, beresin buku kalau habis belajar, bersihkan rumah kalau sore, nyapu halaman... bla..bla... Tapi ngomongnya juga cukup sekali dua kali saja, setelah itu nggak perlu lagi diomongin otomatis dikerjakan tanpa di perintah. Soalnya nggak suka juga ibu tiap hari ngomelin saya jadi cukup sekali ngomong selanjutnya ya sadar diri kalau itu sudah jadi tugas kita.

Hmmm... rasanya juga saya nggak pengen jadi ibu yang bawel. Pengennya anteng aja kayak si ikan mas itu.

Atau saya bilang, "Ya udah, Ibu jadi ikan mas aja ya.."

Berguru pada Anak, Tak Selamanya Salah


"Kebo Nyusu Gudel" pernahkah anda mendengar pepatah Jawa ini? Belum pernah mendengar atau belum mengerti artinya sama sekali? Kebo Nyusu Gudel artinya kerbau yang menyusu pada anaknya (gudel=anak kerbau). Pepatah ini memiliki arti bahwasanya seseorang yang lebih tua kadangkala harus mau belajar atau berguru pada  orang muda bahkan anak kecil sekalipun.

Kebanyakan dari kita orang tua, merasa menjadi makhluk dewasa yang lebih tahu dari anak-anak yang umurnya notabene di bawah kita. Orang tua juga kadang merasa lebih banyak makan asam garam kehidupan atau memiliki pengalaman hidup lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak sehingga beranggapan ilmunya jauh lebih banyak dari anaknya. Seringkali anak-anak menjadi obyek sasaran pemaksaan sebuah kehendak orang tua. Anak-anak tidak diberi kesempatan untuk menolak dengan alasan-alasan yang sebenarnya masuk akal. Tapi karena orang tua memiliki ego yang besar untuk memaksakan pendapat dan kehendaknya pada anak-anak, maka alasan yang masuk akal pun tidak akan diterima jika datangnya dari anak-anak. Orang tua lebih "pintar" dari anak-anak, itu prinsipnya.

Mana ada sih orang tua yang tidak ingin anaknya sukses? Kalimat sakti ini yang kerapkali menjadi salah satu alasan mengapa para orang tua merasa berhak mengatur anak-anak. Maka tidak heran, lihat saja akhir-akhir ini, anak-anak seperti tidak berdaya mengikuti kemauan orang tua untuk ikut les ini itu demi sebuah "prestise" di mata orang tua yang lain. Juga menjadi obyek kemarahan orang tua jika mereka mendapatkan nilai rapor yang tidak sesuai dengan target. Menimpakan kesalahan sepenuhnya pada mereka karena tidak bisa masuk ke sekolah favorit pilihan orang tua. Bahkan sampai memilih jurusan di perguruan tinggi orang tua merasa harus ikut andil karena orang tua lebih tahu soal ini. Sebuah paradigma berpikir kaum tua yang sudah berlaku turun temurun.

Namun ternyata kedewasaan berpikir bukan dominasi kaum tua yang sudah kenyang dengan pengalaman hidup. Saya melihatnya sendiri bagaimana anak-anak kadang memiliki cara berpikir lebih dewasa dari kita yang dewasa. Sebuah komentar di dinding Facebook anak saya menyadarkan saya bahwa ternyata cara berpikirnya melampaui saya, ibunya. Pandangan soal nilai yang selama ini saya anggap sebagai satu-satunya indikator kesuksesan akademis.
Dia memang mendapatkan nilai tertinggi di kelas dan komentar ini merupakan jawaban dari sebuah ucapan selamat seorang temannya. (Saya copas dari FBnya)

 "Neng selamat yaaa nemnya tertinggi diantara kitaa ^^."  "Iya terima kasih:) Tapi yg penting, nilai itu kebutuhan pendidikan nomer 2^^ Nilai kan g dibawa smpe mati kan?? walaupun nilai itu dibutuhkan dimasa depan, tapi ILMU lah yg dibawa smpe mati dan dibawa ke masa depan;) jadiiii jangan kecewa cuma karena nilai, boleh kecewa tapi utk sekedar dijadiin penyemangat belajar=))"

Poinnya bahwa bukan nilai (angka) yang seharusnya kita tekankan. Bukankan mencari ilmu tidak sama dengan mencari angka? Angka bisa dimanipulasi dengan cara apapun misalnya dengan mencontek atau membeli kunci jawaban seperti dalam UN. Tapi jika ilmu yang kita kuasai, otomatis angka yang diperoleh akan menyesuaikan. Yang bermanfaat sesungguhnya adalah ilmu, bukan angka yang sempurna.

Ahh.... saya ternyata baru menyadari bahwa cara berpikir saya salah soal nilai. Saya terlanjur mengikuti paradigma kebanyakan orang tua. Ternyata saya memang tak lebih dewasa dari anak saya yang berumur 15 tahun. Namun sekarang saya pun harus mengakui kedewasaan berpikir bukan lagi terletak pada umur. Banyak orang dewasa yang berpikir kekanak-kanakan. Jadi apakah salah jika kita berguru pada anak-anak...??


*Sumber dari tulisan saya di Kompasiana

























7/06/2012

Simple Cake for Zebra & Chocolate Cake

Pengen berbagi aja soal resep cake simple ini... hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit plus waktu memanggangnya hanya 45 menit jadi total waktunya nggak kurang dari 1 jam. Ada sedikit improvisasi dari jumlah bahannya. Kebetulan di Mesir saya nggak nemu margarin seenak di Indonesia lalu saya ganti dengan butter.. ehh ternyata malah lebih enak dan empuk cakenya.

Kebetulan waktu saya nyobain resep ini koq ya langsung jadi, terus anak-anak juga suka. Cocok banget buat cemilan, daripada beli jajanan di luar yang nggak terjamin bahan bakunya dan kebersihannya. Yang buatan sendiri jelas lebih sehat kan..





Ini bahan-bahannya :

200 gr gula pasir
200 gr margarin/butter
4 butir telur ayam ditambah 2 buah kuningnya saja
175 gr tepung terigu
1/2 sdt baking powder
Vanili secukupnya

Cara membuatnya :
  1. Campur gula pasir dan margarin lalu kocok dengan mixer hingga berwarna putih
  2. Masukkan telur satu persatu kocok dengan kecepatan tinggi hingga mengembang (kurang lebih 10 menit)
  3. Masukkan campuran terigu, baking powder dan vanili ke dalam kocokan telur tadi. Aduk dengan kecepatan sedang hingga tercampur rata
  4. Masukkan ke dalam loyang yang sudah diolesi mentega dan tepung. Kalau punya loyang anti lengket malah lebih bagus lagi, dan nggak perlu oles2 mentega dan ngasih tepung.
  5. Panggang dalam oven kurang lebih 45 menit. Kalau ingin lebih meyakinkan tusukkan tusuk sate jika sudah tidak ada yang lengket berarti cake sudah matang.

Jika ingin membuat cake zebra :
  • Ambil 1 sendok makan coklat bubuk lalu aduk dengan sedikit air panas.
  • Ambil adonan 2 sendok makan adonan cake dan aduk rata. 
  • Tuangkan adonan coklat di atas loyang lalu tusukkan tusuk sate dan buat motif di atasnya.
Jika ingin membuat cake coklat :
  • Campurkan 50 gr coklat bubuk ke dalam campuran tepung terigu (pada langkah no. 2)

Telitilah Sebelum Membeli Produk Asuransi


asuransicerdas.com

Suatu malam (1/6)  selepas Isya' kami (saya dan suami) ngobrol berdua di ruang tengah. Biasalah, ngobrol ngalor ngidul kalau nggak ngomongin politik (padahal saya juga nggak ngerti hehehe...), cerita sejarah, ngomongin saham yang kebetulan beberapa bulan ini lagi anjlok (ini saya juga nggak ngerti), ngomongin tingkah laku anak-anak atau tingkat yang lebih serius ngomongin masa depan, terutama pendidikan anak-anak.

Tiba-tiba saya ingat, ini sudah masuk awal bulan  Juni lalu saya bertanya padanya,

"Mas, bayar asuransinya akhir bulan Mei apa akhir bulan Juni ya..?"

Kami memang mengikuti sebuah "merk" asuransi, dan tahun ini sudah masuk tahun ketiga. Tujuannya utamanya sih investasi alias menabung. Judul asuransinya adalah asuransi pendidikan. Preminya kami bayar setahun sekali dengan jumlah yang cukup besar, karena asuransi itu untuk 3 orang anak kami.

"Iya, awal bulan ini jatuh tempo bayar preminya, tapi sudah aku isi tabungannya untuk di debet.."
"Tapi aku nyesel ikut asuransi itu, potongannya itu banyak banget. Masa sih tiap bulan potongannya rata-rata Rp. 200.000, mendingan dimasukin reksadana. Karena sebenarnya tujuan utamaku itu bukan semata-mata beli asuransinya tapi lebih ke investasi dana."

Lalu saya nanya lagi, " Rp.200.000..??? Emang potongan apaan Mas?"

"Itu katanya untuk administrasi. Tapi herannya potongan administrasinya itu dihitung berdasarkan saldo, jadi kalau kita bayar premi yang tiap tahun itu potongannya jadi tambah banyak. Nah tiap bulan masih juga dipotong, nggak peduli unit link-nya terpuruk tetep aja dipotong."

"Emangnya nggak dijelasin sama agen asuransi soal potongan itu?" tanya saya.

"Nggak!! Dia cuma bilang katanya pada tahun ke-3 premi kita akan dapat bonus 10%, misalnya kita bayar 10 juta jadi 11 juta. Aku pikir lumayan juga nih.."

"Aku baru tahu soal potongan itu setelah dikirim rekening korannya."

"Uang yang sudah kita bayarkan itu memang sudah dipotong untuk bayar asuransinya di muka, prosentase pada tahun pertama 50:50 (50% asuransi dan 50% investasi), lalu tahun kedua 20:80 (20% asuransi dan 80% investasi),  tahun ketiga dan seterusnya investasi kita menjadi 110%, yang 10 % itu bonus"

"Mestinya kalau dilihat dari prosentase itu, tanpa hasil pengembangan sekalipun saldo investasi kita 65% dari yang sudah disetor (50%+80% /2 = 65%). Tapi kenyataannya saldonya tinggal 55%, gila nggak tuh potongannya??! Padahal tiap tahun nilai unit linknya sedikit naik dalam 2 tahun terakhir."

"Aku pikir potongannya itu flat, kalau ini tiap bulan nggak sama tergantung jumlah saldo. Jadi investasinya gak berkembang karena digerogoti sama yang namanya administrasi itu. Apalagi sekarang kan saham fluktuasinya lagi nggak bagus.."

"Kalau kita cairkan sekarang pasti kita yang rugi, jadi kita tunggu setelah 5 tahun aja meskipun itungannya belum balik modal, aku males ikut asuransi lagi!! Agennya nggak jujur, yang manis-manis aja dikasih tahunya, soalnya mereka keburu pengen produknya laku!"


Membeli sebuah produk asuransi saat ini sudah hampir menjadi kebutuhan. Biaya pendidikan yang makin hari makin tinggi membuat asuransi menjadi satu solusi untuk menginvestasikan dana. Lihat saja saat ini penawaran asuransi  sangat beragam jenis dan merknya.

Namun patut menjadi perhatian kita sebagai konsumen, seringkali agen asuransi hanya menawarkan dan memberikan penjelasan yang "menguntungkan" saja. Mereka tidak memberikan penjelasan yang detail terutama soal potongan administrasi yang "mencekik" seperti kasus yang terjadi pada kami. Jadi sebagai konsumen kami merasa dijebak, mau keluar rugi, mau diteruskan juga setengah hati.

Sepatutnya sebagai konsumen kita yang harus teliti dalam membeli sebuah produk asuransi, selain banyak bertanya, kita juga harus banyak mencari informasi agar tidak terjebak pada manisnya rayuan agen asuransi. Semoga pengalaman kami ini menjadi pelajaran bagi konsumen asuransi lainnya. Telitilah sebelum membeli.

Salam hangat... :)
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India